Harga Emas Naik Tipis di Pagi Ini (29/4), Investor Menanti Sinyal The Fed



KONTAN.CO.ID - SYDNEY. Harga emas sebagian besar stabil di awal perdagangan sesi Asia karena investor menunggu komentar Ketua Federal Reserve Jerome Powell, untuk menilai dampak perang Iran terhadap perekonomian di tengah perundingan perdamaian yang terhenti. 

Rabu (29/4/2026) pukul 08.30 WIB, harga emas spot naik 0,1% menjadi US$ 4.598,45 per ons troi, setelah jatuh ke level terendah sejak 2 April pada sesi sebelumnya. 

Sejalan, harga emas untuk kontrak berjangka pengiriman Juni 2026 menguat 0,1% menjadi US$ 4.612,1 per ons troi. 


Sentimen emas masih berasal dari Timur Tengah. Di mana, upaya untuk mengakhiri konflik Iran mengalami kebuntuan karena Presiden AS Donald Trump tidak senang dengan proposal terbaru dari Teheran, yang menurutnya telah memberi tahu AS bahwa negara itu berada dalam "keadaan runtuh" ​​dan sedang mencari solusi atas situasi kepemimpinannya. 

Baca Juga: Trump Siapkan Blokade Jangka Panjang Iran, Tekanan Ekonomi Ditingkatkan

Di sisi lain, investor memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga tetap stabil pada akhir pertemuan dua harinya yang berakhir hari ini. 

Investor juga akan fokus pada keputusan bank sentral lainnya minggu ini, termasuk dari Bank Sentral Eropa, Bank of England, dan Bank of Canada. 

China, konsumen emas terbesar di dunia, mengimpor emas bersih sebanyak 47.866 metrik ton pada bulan Maret dari Hong Kong, naik dari 46.249 ton pada bulan Februari, menurut data Departemen Sensus dan Statistik Hong Kong yang dirilis pada hari Selasa (28/4/2026).

Harga energi diperkirakan akan melonjak 24% pada tahun 2026 ke level tertinggi sejak invasi skala penuh Rusia ke Ukraina empat tahun lalu, jika gangguan paling akut yang disebabkan oleh perang di Timur Tengah berakhir pada bulan Mei, kata Bank Dunia pada hari Selasa. 

Harga minyak ditutup naik hampir 3% pada hari Selasa karena kekhawatiran yang terus-menerus tentang kendala pasokan dari Selat Hormuz yang tertutup lebih besar daripada kekhawatiran tentang keputusan Uni Emirat Arab untuk meninggalkan OPEC dan kelompok OPEC+ yang lebih luas. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News