KONTAN.CO.ID - Harga emas menguat tipis pada perdagangan Rabu (19/8/2026) di tengah penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dari level tertingginya. Pelaku pasar kini menunggu publikasi risalah rapat terbaru Federal Reserve (The Fed) untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga. Mengutip
Reuters, harga emas spot naik 0,2% menjadi US$ 4.342,33 per ons troi pada pukul 00.30 GMT. Namun, harga emas telah anjlok hampir 2% pada perdagangan Selasa (18/8).
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik 4 Hari Beruntun Rabu (19/8), Brent ke US$ 91,28 per Barel Sementara itu, harga kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember justru turun 0,6% menjadi US$ 4.396,30 per ons troi. Kenaikan harga emas spot terjadi setelah imbal hasil US Treasury mundur dari level tertingginya. Sebelumnya, pasar obligasi global mengalami aksi jual yang mendorong biaya pinjaman jangka panjang di sejumlah negara maju mendekati level tertinggi dalam beberapa dekade. Pasar Tunggu Sinyal The Fed Fokus utama investor kini tertuju pada risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru yang dijadwalkan dirilis pada Rabu pukul 18.00 GMT. Risalah tersebut dinilai dapat memberikan petunjuk mengenai pandangan para pejabat The Fed terhadap inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, serta arah suku bunga AS ke depan. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar saat ini memperkirakan probabilitas sekitar 65% The Fed mempertahankan suku bunga pada September. Sementara peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin berada di sekitar 35%.
Baca Juga: Gali Saluran, Pekerja Bangunan Temukan Harta Karun Emas 49 Batangan & Ribuan Koin Ketidakpastian semakin meningkat setelah data ekonomi AS menunjukkan sejumlah tanda pelemahan, termasuk penurunan lapangan kerja yang tidak terduga, inflasi yang lebih moderat serta lemahnya penjualan ritel pada Juli. Namun, kenaikan harga energi akibat meningkatnya ketegangan AS-Iran berpotensi kembali mendorong inflasi. Presiden AS Donald Trump mengatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran dan menegaskan bahwa Selat Hormuz terbuka. Pernyataan tersebut bertentangan dengan klaim Iran bahwa jalur pelayaran strategis itu masih tertutup. Prospek berakhirnya konflik AS-Iran yang semakin suram turut mendorong harga minyak naik.
Baca Juga: Konsorsium Jeff Bezos Akuisisi 38% Saham Liverpool, Nilainya Capai Rp55 Triliun Harga Minyak Jadi Risiko Inflasi Kenaikan harga energi dapat memperkuat alasan bagi The Fed untuk mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga guna menekan inflasi. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi harga emas. Meskipun emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya menekan harga emas karena dapat memperkuat dolar AS sekaligus meningkatkan daya tarik aset yang memberikan imbal hasil. Dengan demikian, investor emas kini menghadapi dua sentimen yang berlawanan. Penurunan imbal hasil US Treasury menjadi katalis positif bagi emas, sementara potensi kenaikan suku bunga akibat tekanan inflasi menjadi ancaman.
Baca Juga: Apple Kenakan Komisi 5% Atas Transaksi Digital untuk App Store Alternatif Uni Eropa Pergerakan Logam Mulia Lain Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 0,5% menjadi US$ 62,99 per ons troi. Harga platinum naik 0,3% menjadi US$ 1.717,03 per ons troi, sedangkan palladium melemah 0,3% menjadi US$ 1.286,73 per ons troi.