KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga logam mulia mulai menghadapi tekanan setelah mencatat reli kuat dalam beberapa periode sebelumnya. Emas, perak, dan platinum sama-sama mengalami koreksi dalam sepekan terakhir, meski ketiganya masih mencatat pertumbuhan signifikan secara bulanan maupun tahunan. Berdasarkan data Trading Economics per 19 Agustus 2026, harga emas berada di level US$ 4.343,17 per ons troi. Harga emas turun 1,48% dalam sepekan, tetapi masih menguat 8,36% dalam sebulan dan 29,84% dalam setahun. Perak mencatat kinerja yang lebih tinggi dibandingkan emas. Harga perak berada di level US$ 63,015 per ons troi, setelah terkoreksi 3,53% dalam sepekan. Namun, secara bulanan harga perak masih naik 11,75%, sedangkan secara tahunan melonjak 66,22%.
Sementara itu, harga platinum tercatat sebesar US$ 1.724,80 per ons troi. Harga platinum turun 2,52% dalam sepekan, tetapi masih mencatat kenaikan 7,53% dalam sebulan dan 29,27% dalam setahun. Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan, meski kinerja ketiga logam masih positif secara tahunan, pasar mulai menunjukkan tanda kelelahan setelah reli besar yang terjadi pada 2025.
Baca Juga: IHSG Terpangkas ke Level 6.394, Cermati Sinyal Kebijakan BI dan Lonjakan Minyak “Setelah reli parabolik 2025, pasar logam mulia tahun ini menunjukkan tanda kelelahan (fatigue) — investor institusional mulai berhati-hati, dan volatilitas harian yang tinggi menjadi ciri dominan dibanding tren satu arah yang konsisten,” ujar Sutopo. Menurutnya, kondisi tersebut membuat pergerakan logam mulia hingga akhir 2026 berpotensi lebih banyak berada dalam fase konsolidasi dibandingkan melanjutkan reli secara agresif. Emas diperkirakan cenderung bergerak sideways dalam rentang yang cukup lebar sambil menunggu katalis baru. “Emas kemungkinan bergerak sideways dalam rentang lebar sambil mencari katalis baru, perak akan tetap menjadi amplifier berisiko tinggi terhadap pergerakan emas, sementara platina berpotensi melanjutkan tren menguat selama defisit pasokan tetap bertahan,” jelasnya.
Yield Obligasi Jadi Perhatian
Salah satu faktor yang berpotensi membatasi kenaikan harga logam mulia adalah peningkatan imbal hasil obligasi global. Yield yang lebih tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berbunga. Pada saat yang sama, kondisi tersebut meningkatkan biaya peluang bagi investor yang memegang aset seperti emas dan perak yang tidak menghasilkan imbal hasil. Sutopo mengatakan, kenaikan yield berkaitan dengan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal serta tekanan inflasi yang masih persisten. Oleh karena itu, arah imbal hasil obligasi menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan investor dalam membaca prospek logam mulia. Selain yield obligasi, arah kebijakan Federal Reserve atau The Fed juga menjadi faktor penting bagi pergerakan emas dan perak. Perubahan ekspektasi pasar terhadap suku bunga Amerika Serikat (AS) dapat memengaruhi daya tarik logam mulia melalui pergerakan yield obligasi maupun dolar AS. Di sisi lain, risiko geopolitik masih berpotensi memberikan dukungan terhadap harga logam mulia. Eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk perkembangan terkait Iran dan Selat Hormuz, dapat meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven.
Baca Juga: FTSE Russell Tunda Rebalancing Saham RI, BEI Dapat Waktu Benahi Pasar Permintaan bank sentral terhadap emas juga masih menjadi salah satu penopang harga. Namun, laju pembelian bank sentral mulai menunjukkan tanda perlambatan. Sutopo memperkirakan volatilitas masih akan menjadi karakter utama pasar logam mulia hingga akhir 2026. Pergerakan emas, perak, dan platinum juga berpotensi semakin berbeda karena masing-masing memiliki faktor fundamental yang tidak sepenuhnya sama.
Emas dan perak diperkirakan lebih sensitif terhadap faktor moneter, terutama arah suku bunga, yield obligasi, dan dolar AS. Sementara itu, platinum lebih banyak dipengaruhi oleh fundamental pasokan dan permintaan industri. Dengan kondisi tersebut, investor perlu mencermati perkembangan kebijakan The Fed, pergerakan yield obligasi, kondisi geopolitik, serta permintaan bank sentral. Faktor-faktor tersebut akan menjadi penentu apakah harga logam mulia mampu kembali melanjutkan penguatan atau justru memasuki fase koreksi yang lebih panjang hingga akhir 2026. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News