Harga Emas, Perak, dan Tembaga Anjlok Usai Sentuh Rekor Tertinggi



KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga emas, perak, dan tembaga turun tajam pada Jumat setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi pekan ini. Penurunan terjadi karena investor yang mulai cemas memilih mengamankan keuntungan, seiring harapan pemangkasan suku bunga AS secara agresif mulai memudar dan nilai dolar menguat.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat mengatakan telah menunjuk mantan Gubernur Federal Reserve, Kevin Warsh, sebagai Ketua The Fed. Kabar tersebut mendorong penguatan indeks dolar AS karena pasar menilai Warsh tidak akan mendorong penurunan suku bunga secara agresif.

“Pasar melihat Kevin Warsh sebagai sosok yang rasional dan tidak akan terburu-buru memangkas suku bunga,” kata analis Panmure Liberum, Tom Price. Menurutnya, investor umum yang fokus melindungi modal mulai mengambil keuntungan setelah reli harga yang tajam.


Baca Juga: AstraZeneca Investasi US$ 18,5 Miliar di China, Kejar 20 Obat Baru

Penguatan dolar AS membuat harga logam yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga berpotensi menekan permintaan. Pola ini juga dimanfaatkan oleh dana investasi yang menggunakan model perdagangan berbasis sinyal numerik.

Sejak awal Januari, harga emas telah naik sekitar 17% dan perak melonjak hingga 39%. Aksi ambil untung pada sesi perdagangan terakhir bulan ini terjadi setelah beberapa hari likuiditas pasar yang tipis, di mana arus transaksi kecil akibat kekhawatiran ketinggalan momentum alias fear of missing out (FOMO) memicu pergerakan harga yang berlebihan.

“Emas dan perak memang sudah waktunya terkoreksi, mengingat lonjakan harga terakhir sangat spekulatif,” ujar Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen.

Pada pukul 19.01 WIB, harga emas turun 4,7% ke level 5.143,40 dolar AS per ons, sementara perak anjlok 11% ke 103,40 dolar AS per ons. Sehari sebelumnya, keduanya sempat menyentuh rekor masing-masing di 5.594,80 dolar AS dan 121,60 dolar AS per ons.

“Logam mulia akhirnya kembali ke realitas,” kata analis independen Ross Norman. Ia menambahkan bahwa spekulan diingatkan kembali bahwa pasar ini bisa bergerak dua arah.

Harga tembaga juga turun 1,1% ke 13.465 dolar AS per ton, setelah sehari sebelumnya mencapai rekor tertinggi sepanjang masa di 14.527,50 dolar AS per ton. Meski demikian, harga tembaga masih naik sekitar 6% sepanjang Januari, setelah melonjak 11% pada Desember.

Analis Macquarie, Alice Fox, memperkirakan harga logam industri akan tetap tinggi dan bergejolak karena aliran dana terus masuk ke pasar yang relatif kecil dan kini semakin padat.

Baca Juga: Obligasi Jangka Panjang AS Tertekan Usai Trump Pastikan Kevin Warsh Ketua The Fed

Para pedagang memperkirakan tekanan penurunan harga tembaga, aluminium, dan logam industri lainnya masih berlanjut menjelang libur Tahun Baru Imlek pada 16 Februari, ketika China sebagai konsumen logam terbesar dunia menghentikan aktivitas selama sepekan.

“Pelaku pasar di China tidak ingin menahan posisi di pasar yang sangat volatil ini,” ujar Tom Price. Lihat saja apa yang bisa terjadi hanya dalam waktu 12 jam.

Selanjutnya: IHSG Volatil Usai Pengumuman MSCI, OJK Minta Investor Tetap Tenang dan Rasional

Menarik Dibaca: Ini Kiat Coffeenatics Mengembangkan Usaha Kopi Lokal hingga Tembus Pasar Global