Harga Emas Sempat Jebol US$5.000, Spekulasi Ketua The Fed Picu Koreksi Tajam



KONTAN.CO.ID - Harga emas dunia mengalami koreksi tajam pada Jumat (30/1/2026), sempat turun ke bawah level psikologis US$5.000 per ons troi seiring menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) dan spekulasi pasar terkait penunjukan Ketua Federal Reserve (The Fed) yang baru.

Berdasarkan data perdagangan, harga emas spot sempat merosot lebih dari 8% dan menyentuh level terendah harian di US$4.957,54 per ons troi. Hingga pukul 11.32 GMT, emas spot tercatat turun 5% ke posisi US$5.124,37 per ons troi.

Baca Juga: China Pangkas Tarif Impor Whisky Jadi 5%, Dorong Ekspor Scotch dari Inggris


Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari melemah 3,9% ke US$5.118,40 per ons.

Penurunan ini terjadi setelah emas mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level US$5.594,82 pada Kamis (29/1).

Meski terkoreksi tajam, harga emas masih berada di jalur kenaikan lebih dari 18% sepanjang Januari dan berpotensi mencatatkan kenaikan bulanan terbesar sejak 1982, sekaligus memperpanjang reli enam bulan berturut-turut.

Analis Capital Economics Hamad Hussain menilai, tekanan pada harga logam mulia dipicu oleh ekspektasi pasar terhadap penunjukan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed yang baru.

Baca Juga: Trump Siap Umumkan Pengganti Jerome Powell, Kevin Warsh Kandidat Kuat Ketua The Fed

Warsh dipandang memiliki sikap kebijakan moneter yang lebih hawkish dibanding kandidat lainnya.

“Perkiraan penunjukan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed, yang dipersepsikan lebih hawkish, tampaknya memberikan tekanan turun pada harga logam mulia,” ujar Hussain.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan mengumumkan pilihannya untuk posisi Ketua The Fed pada Jumat waktu setempat. Warsh, mantan Gubernur The Fed, disebut-sebut sebagai kandidat terkuat.

Ia dikenal mendorong neraca The Fed yang lebih kecil, berlawanan dengan kecenderungan Trump yang lebih menyukai kebijakan moneter longgar.

Di sisi lain, dolar AS menguat dan berhasil memangkas sebagian pelemahan sebelumnya yang sempat menyentuh level terendah empat tahun.

Penguatan dolar membuat harga emas yang diperdagangkan dalam mata uang AS menjadi lebih mahal bagi pembeli di luar negeri.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun Hampir 1% Jumat (30/1), Trump Beri Sinyalkan Dialog ke Iran

Dari pasar fisik, premi emas di India naik ke level tertinggi dalam lebih dari satu dekade, didorong permintaan investasi yang kuat menjelang potensi kenaikan bea masuk. Sementara itu, premi emas di China juga melonjak seiring meningkatnya permintaan investasi dan perhiasan.

Analis independen Ross Norman memperkirakan harga emas masih berpeluang turun lebih jauh dalam jangka pendek, namun akan kembali pulih dalam jangka menengah hingga panjang.

Ia memproyeksikan rata-rata harga emas pada 2026 berada di level US$5.375 per ons, dengan potensi mencapai puncak US$6.400 pada kuartal IV.

“Meski emas berpeluang turun lebih dalam dari level saat ini, kami melihat adanya pemulihan ke depan,” kata Norman.

Koreksi tajam juga melanda logam mulia lainnya. Harga perak spot anjlok 11,7% ke US$102,57 per ons setelah sempat menyentuh level terendah harian di US$95,79.

Baca Juga: Alarm Pasar Properti Inggris Menyala, Persetujuan KPR Terendah dalam 18 Bulan

Padahal, perak baru saja mencetak rekor tertinggi di US$121,64 pada Kamis dan melonjak sekitar 42% sepanjang bulan ini, menuju performa bulanan terbaiknya.

Platinum spot turun 10,9% ke US$2.343,40 per ons troi, setelah sebelumnya mencatat rekor tertinggi US$2.918,80 pada awal pekan. Sementara itu, palladium merosot 8,4% ke level US$1.838,14 per ons troi.

Selanjutnya: China Pangkas Tarif Impor Whisky Jadi 5%, Dorong Ekspor Scotch dari Inggris

Menarik Dibaca: Bitcoin Ambles Hampir 6%, Sinyal Bearish atau Volatilitas Jangka Pendek?