Harga Emas Sentuh Rekor Tertinggi Saat Ekonomi Dunia Diprediksi Melambat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas spot menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa. Rekor harga emas memicu spekulasi bahwa harga emas pada pekan ini bisa mencapai hingga ke level di atas US$ 2.200 per ons troi.

Namun, pada Selasa (12/3) pukul 20.23 WIB, harga emas spot turun 0,81% ke berada di US$ 2.165,05 per ons troi. Kemarin, harga emas spot mencapai rekor penutupan tertinggi sepanjang masa di US$ 2.182,75 per ons troi.

Research and Development ICDX, Taufan Dimas Hareva, mengatakan, kinerja emas terdorong naik ditopang oleh sinyal The Fed yang akan melonggarkan suku bunganya. 


Menurut dia, Ketua Federal Reserve Jerome Powell terdengar lebih percaya diri untuk memangkas suku bunga dalam beberapa bulan mendatang, dan menunggu data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang dapat mengonfirmasi pemangkasan suku bunga AS pada bulan Juni.

"Ketua The Fed Jerome Powell juga mengatakan, bank sentral AS cukup yakin bahwa inflasi akan mencapai target 2% untuk mulai menurunkan suku bunga," ujar Taufan kepada Kontan.co.id, Selasa (12/3).

Baca Juga: Harga Emas Spot Berada di Bawah Tekanan Setelah Data Inflasi AS, Selasa (12/3)

Namun demikian, Taufan mengatakan bahwa Ketua The Fed itu tidak memberikan jadwal yang tepat untuk penurunan suku bunga, karena para pejabat The Fed ingin melihat lebih banyak bukti sebelum mempertimbangkan penurunan suku bunga.

Di sisi lain, Taufan menuturkan, saat ini para pedagang tengah menunggu data inflasi AS yang dapat memberikan kejelasan lebih lanjut mengenai lintasan suku bunga Federal Reserve. Selain itu, data inflasi harga konsumen (CPI) AS untuk bulan Februari 2024 juga akan dirilis pada malam ini.

"Jika data CPI AS lebih baik dari laporan bulan lalu, maka hal tersebut mungkin akan sedikit memberikan tekanan pada kinerja aset emas, dan sebaliknya, jika data CPI AS lebih buruk dari bulan lalu, maka kinerja emas akan meningkat," ujarnya.

Lebih lanjut, Taufan menyebutkan, berdasarkan perdagangan Contract for Difference (CFD) harga emas diperkirakan akan diperdagangkan sebesar US$ 2.046,66 per ons troi pada akhir kuartal ini.

"Ke depan, kami memperkirakannya akan diperdagangkan pada US$ 2.112,48 per ton dalam waktu 12 bulan. Sementara untuk emas fisik lokal saat ini satu gram dihargai Rp 1.142.000," kata dia.

Baca Juga: Harga Emas Menguat, Emiten Tambang Emas Berharap Kinerja Meningkat

Taufan menilai, harga emas cenderung akan bertahan karena diversifikasi portofolio ke aset berisiko seperti kripto. Selain itu, emas Antam diperkirakan akan diperdagangkan pada kisaran Rp 1.130.000 per gram pada akhir kuartal ini.

“Ke depan harga emas Antam kemungkinan akan menguat pada kisaran Rp 1.200.000 per gram untuk semester satu 2024,” ungkapnya

Sementara itu, Pengamat Komoditas dan Mata Uang Lukman Leong memprediksi bahwa harga emas akan mengalami tren kenaikan dalam jangka panjang.

Lukman mengatakan, sentimen dari luar negeri yang membuat harga emas naik yaitu, terjadinya pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan turunnya imbal hasil obligasi AS. Selain itu, serangkaian data ekonomi AS juga lebih lemah dari biasanya, dan tekanan inflasi yang mulai mereda.

"Sehingga hal tersebut menaikkan prospek pemangkasan suku bunga oleh bank sentral dunia dan The Fed yang diperkirakan akan memulai siklus pemangkasan pada bulan Juni 2024 ini," ujar Lukman kepada Kontan.co.id, Selasa (12/3).

Baca Juga: Harga Emas Sentuh Rekor Tertinggi Baru, Intip Prediksi Selanjutnya

Sedangkan dari sisi teknis, Lukman menjelaskan bahwa emas berada di posisi long bullish, dan gold ETF meningkat tajam oleh hedge fund serta posisi short interest yang sudah jenuh. Dia mengatakan, data terakhir menunjukkan posisi emas ETF meningkat dari 41,221 kontrak menjadi 145,106. Sehingga membuat total net buy menjadi 109,763 kontrak.

"Maka tren kenaikan emas diprediksi akan berjalan cukup lama, mungkin masih hingga beberapa tahun ke depan. Sebagai contoh, China sudah mengakumulasi sejak tahun 2000," ujar Lukman.

Di sisi lain, dia mengatakan bahwa investasi emas masih sangat menarik di tahun ini. Dia melihat investor saat ini lebih tertarik untuk berinvestasi emas dalam produk paper gold dibandingkan emas fisik karena lebih mudah ditransaksikan dan spread jual belinya yang lebih kecil.

Dia menyebutkan, sentimen utama pada investasi emas adalah kekhawatiran tensi dan geopolitik hingga perang, yang menyebabkan investor beralih ke aset safe haven ini. Tak hanya itu, Bank sentral China yang terus mengakumulasi emas juga sebagai usaha meningkatkan cadangan emas dan dedolarisasi.

"Jadi kenaikan harga emas yang tinggi ini karena permintaan safe haven yang masih kuat. Kenaikan emas ini juga diprediksi akan menyeret kenaikan harga perak dan platinum," kata Lukman.

Lukman pun memprediksi harga emas akan mencapai paling tidak US$ 2.300 - US$ 2.500 pada akhir tahun ini, seiring akan dimulainya siklus pemangkasan suku bunga oleh bank sentral dunia.

Baca Juga: Harga Emas Turun dari Level Rekor Tertinggi Menjelang Rilis Data Inflasi AS

Pertumbuhan Ekonomi Dunia Melambat Seiring Kenaikan Harga Emas

Selaras dengan hal ini, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira juga mengatakan bahwa, tren penguatan harga emas berkaitan dengan proyeksi bank sentral AS yang berencana akan menurunkan suku bunga pada tahun ini.

Dengan begitu, Bhima bilang, Investor akan mencari imbal hasil yang lebih menarik tetapi dalam konteks safe haven seperti emas dan surat utang AS.

"Tapi selain itu, faktor ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi global menjadi pemicu beralihnya strategi investasi ke emas. Dedolarisasi yang terus berlanjut terutama di banyak negara mitra dagang strategis AS turut memicu pelepasan dollar dan meningkatnya cadangan emas di berbagai bank sentral," kata Bhima kepada Kontan.co.id, Selasa, (12/3).

Kendati demikian, Bhima memprediksi, pertumbuhan ekonomi dunia akan melambat ke depannya, setelah China ingin mendorong stimulus fiskal dengan cetak utang besar-besaran, meski harga emas tengah mengalami tren kenaikan di tahun ini.

"Kecenderungan perekonomian dunia akan soft landing alias tumbuh lambat dalam waktu yang lama," tandas Bhima.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati