Harga Emas Spot Bertahan Dekati Level Tertinggi Sejak Awal Juni pada Kamis (20/8)



KONTAN.CO.ID - Harga emas bertahan di dekat level tertinggi dalam lebih dari dua bulan pada perdagangan Kamis (20/8/2026).

Harga emas mendapat dukungan dari penurunan imbal hasil obligasi AS dan pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan langkah untuk menopang likuiditas pasar obligasi.

Baca Juga: China Pertahankan Suku Bunga Kredit, LPR Tetap 3% untuk Bulan ke-15


Mengutip Reuters, harga emas spot relatif stabil di US$ 4.512,19 per ons troi pada pukul 00.31 GMT. Sebelumnya, harga emas sempat menyentuh US$ 4.525,79 per ons troi, level tertinggi sejak 2 Juni 2026.

Harga emas bahkan melonjak lebih dari 4% pada perdagangan Rabu (19/8).

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember 2026 naik 0,6% menjadi US$ 4.569,80 per ons troi.

Penguatan harga emas terjadi setelah imbal hasil surat utang pemerintah AS tenor panjang turun.

Permintaan terhadap obligasi meningkat setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana menggandakan ukuran operasi pembelian kembali (buyback) untuk surat utang AS bertenor panjang sebagai bagian dari dukungan likuiditas.

Penurunan imbal hasil obligasi turut menjadi katalis positif bagi emas. Emas tidak memberikan imbal hasil bunga, sehingga penurunan yield obligasi membuat biaya peluang memegang emas menjadi lebih rendah.

Selain itu, dolar AS masih bergerak lemah. Kondisi tersebut membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih murah bagi investor yang memegang mata uang lain.

Baca Juga: JGB Menguat, Terimbas Langkah AS Tekan Yield Treasury

Utang AS Tembus US$ 40 Triliun

Di sisi lain, total utang pemerintah AS untuk pertama kalinya telah menembus US$ 40 triliun, menurut Departemen Keuangan AS.

Kenaikan tersebut memicu kembali kekhawatiran mengenai kondisi fiskal AS. Beban belanja program jaring pengaman sosial dan pembayaran bunga utang disebut meningkat jauh lebih cepat dibandingkan penerimaan pemerintah, yang turut tertekan oleh pemotongan pajak.

Pasar juga mencermati arah kebijakan moneter Federal Reserve. Risalah pertemuan The Fed bulan lalu menunjukkan kekhawatiran terhadap inflasi semakin meningkat.

Dalam risalah tersebut, disebutkan bahwa beberapa pejabat The Fed siap menaikkan suku bunga, sementara banyak pejabat menilai kenaikan suku bunga diperlukan apabila inflasi tidak kembali menuju target bank sentral AS sebesar 2%.

Baca Juga: AS Gandakan Buyback Treasury, Yield Obligasi 30 Tahun Mulai Turun

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada September mencapai 67,3%, sedangkan peluang kenaikan suku bunga berada di 32,7%.

Emas secara historis menjadi salah satu aset lindung nilai ketika terjadi gejolak geopolitik maupun ekonomi.

Namun, kenaikan suku bunga biasanya menjadi sentimen negatif bagi emas karena meningkatkan daya tarik aset berbunga.

Sementara itu, harga logam mulia lainnya bergerak beragam. Perak spot naik 0,2% menjadi US$ 67,06 per ons troi, platinum turun 0,4% menjadi US$ 1.816,78 per ons troi, sedangkan palladium naik 0,3% menjadi US$ 1.339,05 per ons troi.