KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas turun dari posisi terendah tiga minggu pada hari Senin (7/8). Setelah perlambatan pertumbuhan lapangan kerja Amerika Serikat (AS) menjatuhkan dolar dan imbal hasil obligasi dari level tertinggi baru-baru ini. Sementara para investor bersiap-siap untuk data inflasi minggu ini yang dapat mempengaruhi jalur kebijakan Federal Reserve. Melansir Reuters, harga emas di pasar spot stabil di US$1.940,99 per ons troi pada pukul 0325 GMT, setelah merosot ke level terendah sejak 11 Juli pada hari Jumat sebelum ditutup 0,4% lebih tinggi. Sedangkan, harga emas berjangka AS datar di US$1,976.10.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Tetap di Level Rp 1.074.000 Per Gram, Senin (7/8) Indeks dolar AS turun dan imbal hasil US Treasury tenor 10-tahun turun dari level tertinggi November setelah laporan ketenagakerjaan Departemen Tenaga Kerja pada hari Jumat menunjukkan bahwa ekonomi menambahkan lebih sedikit pekerjaan daripada yang diharapkan pada bulan Juli. Bukti baru bahwa pasar tenaga kerja mendingin, menambah kasus bahwa kenaikan suku bunga bank sentral AS baru-baru ini dapat menjadi yang terakhir dari siklus pengetatan saat ini. Pasar juga memperhatikan data departemen tenaga kerja yang menunjukkan kenaikan upah yang solid dan penurunan tingkat pengangguran yang menunjukkan berlanjutnya pengetatan kondisi pasar tenaga kerja. Laporan pekerjaan sebagian besar beragam, kata Yeap Jun Rong, analis pasar di IG. Ia menambahkan bahwa kenaikan pekerjaan yang mendingin memberikan argumen bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga. Tetapi tekanan upah yang lebih gigih dari ketatnya pasar tenaga kerja menunjukkan bahwa kita masih harus mengawasi risiko inflasi di masa depan. Data harga konsumen AS yang akan dirilis pada hari Rabu akan menjadi fokus untuk menilai apakah kenaikan suku bunga diperlukan untuk menjinakkan inflasi. Baca Juga: Inflasi di Atas 2%, Fed Kerek Bunga