Harga Emas Spot Jatuh 3,5%, Sentuh Level Terendah dalam 7 Minggu



KONTAN.CO.ID - Harga emas dunia merosot tajam pada perdagangan Senin (28/9/2026), tertekan lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Melansir Reuters, harga emas spot turun 3,5% menjadi US$4.136,81 per ons troi pada pukul 13.30 waktu setempat atau 17.30 GMT. Harga emas bahkan sempat anjlok ke US$4.110,55 per ons troi, level terendah sejak 5 Agustus 2026.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ditutup turun 3,5% menjadi US$4.168,40 per ons troi.


Baca Juga: Harga Minyak Naik, Brent Bertahan di Atas US$105 di Tengah Risiko Selat Hormuz

Analis American Gold Exchange Jim Wyckoff mengatakan, kenaikan harga minyak meningkatkan risiko inflasi sehingga mendorong ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang lebih ketat.

“Kenaikan tajam harga minyak mentah menunjukkan tekanan inflasi yang masih bermasalah, yang mengarah pada kebijakan moneter Federal Reserve yang lebih ketat,” kata Wyckoff.

Selain harga minyak, penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil US Treasury turut menekan harga emas.

Baca Juga: Indonesia Kalah Lagi Dibanding Malaysia, Kini Soal Paspor

Dolar AS bergerak di dekat level tertinggi dalam dua bulan sehingga membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.

Pada saat yang sama, kenaikan yield Treasury meningkatkan biaya peluang atau opportunity cost dalam memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Wyckoff menyebut kombinasi harga minyak yang meningkat, dolar AS yang menguat, dan yield Treasury yang lebih tinggi menciptakan tekanan terhadap harga logam mulia.

Harga minyak naik sekitar 3% setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal perdamaian dari Iran untuk menyelesaikan konflik dan membuka kembali Selat Hormuz.

Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan inflasi dan mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga pada level tinggi dalam waktu lebih lama. Kondisi tersebut menjadi sentimen negatif bagi emas.

Baca Juga: Daftar Medali Indonesia di Asian Games 2026 per 28 September, Total 27 Medali

Meskipun emas secara tradisional dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga dapat mengurangi daya tarik emas karena investor memiliki alternatif aset yang memberikan imbal hasil.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sekitar 94% untuk kenaikan suku bunga The Fed pada Desember.

The Fed telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada awal September dan mengisyaratkan kemungkinan kenaikan lanjutan dalam beberapa bulan mendatang.

Sejumlah pejabat The Fed juga memberikan sinyal hawkish dengan memperingatkan bahwa risiko inflasi masih tinggi dan suku bunga mungkin perlu dinaikkan lebih lanjut. Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack menjadi salah satu pejabat terbaru yang menyampaikan pandangan tersebut.

Investor Cermati Data Ekonomi AS

Selanjutnya, pasar akan mencermati sejumlah data ekonomi AS yang dirilis pekan ini. Data tersebut mencakup lowongan pekerjaan, laporan ketenagakerjaan ADP, indeks Personal Consumption Expenditures (PCE), serta laporan nonfarm payrolls.

Baca Juga: Siti Hasmah, Istri Mahathir Mohamad, Meninggal Dunia di Usia 100 Tahun

Data-data tersebut akan menjadi perhatian investor karena dapat memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed.

Tekanan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak spot turun 4,5% menjadi US$61,39 per ons troi.

Harga platinum melemah 2,8% menjadi US$1.727,88 per ons troi, sedangkan palladium turun 3,6% menjadi US$1.220,65 per ons troi.