KONTAN.CO.ID - Harga emas kembali menguat pada perdagangan Rabu (12/8/2026), setelah turun dari level tertinggi dalam 10 pekan pada sesi sebelumnya. Investor kini menanti data inflasi Amerika Serikat (AS) untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Melansir
Reuters, harga emas spot naik 0,3% menjadi US$4.377,79 per ons troi pada pukul 00.55 GMT. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember bergerak relatif stabil di US$4.438 per ons troi.
Baca Juga: Trump Sebut Pesawat yang Ditumpanginya Berisiko Jadi Target Pembunuhan Iran Pada perdagangan Selasa (11/8), harga emas sempat menyentuh level tertinggi sejak 5 Juni. Namun, harga kemudian menghadapi resistensi teknikal pada rata-rata pergerakan 100 hari di sekitar US$4.387 per ons troi. Emas akhirnya ditutup melemah dan menjadi penurunan harga emas yang baru terjadi untuk kedua kalinya sepanjang Agustus. Pasar Tunggu Data Inflasi AS Pergerakan harga emas saat ini sangat dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan moneter AS. Data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS yang akan dirilis pada Rabu menjadi perhatian utama investor.
Baca Juga: Dolar AS Bergerak Datar, Pasar Menanti Data Inflasi untuk Prediksi The Fed Data tersebut berpotensi mengubah ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed, terutama menjelang pertemuan bank sentral AS pada September. Setelah laporan ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan pada Jumat lalu, pelaku pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September. Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga pada September kini berada di sekitar 48%. Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee mengatakan dirinya lebih mengkhawatirkan inflasi yang terlalu tinggi dibandingkan dengan pelemahan pasar tenaga kerja. Harga Minyak Jadi Perhatian Selain data inflasi, perkembangan konflik di Timur Tengah juga menjadi faktor penting bagi harga emas. Harga minyak mentah kembali naik karena keraguan terhadap kesepakatan damai antara AS dan Iran meningkat.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Naik Rabu (12/8) Pagi, Brent ke US$89,63 dan WTI ke US$83,91 Serangan terhadap dua kapal juga memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan tekanan inflasi dan mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga, karena suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang untuk memegang logam mulia. Di sisi lain, para strategis obligasi yang disurvei Reuters memperkirakan imbal hasil obligasi pemerintah AS akan menurun dalam satu tahun ke depan. Mereka tetap mempertahankan ekspektasi bahwa pasar pada akhirnya akan mengurangi taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed. India Perketat Pengawasan Bullion Digital Di pasar logam mulia lainnya, regulator pasar India pada Selasa mengusulkan perluasan aturan yang saat ini berlaku bagi pengelola penyimpanan atau vault manager. Aturan tersebut nantinya mencakup seluruh bullion fisik yang menjadi dasar produk yang diatur oleh Securities and Exchange Board of India (SEBI).
Baca Juga: Serangan Kapal Kembali Terjadi, Perundingan Perang Iran-AS Kembali Buntu Langkah ini ditujukan untuk memperkuat pengawasan terhadap pasar bullion digital di India. Sementara itu, CME Group mengatakan pada Selasa bahwa pihaknya akan membuka perdagangan kontrak berjangka perak 100 ons selama 24 jam sehari mulai September. Harga perak spot naik 0,2% menjadi US$64,81 per ons troi. Harga tersebut masih berada di bawah level tertinggi sejak 22 Juni yang dicapai pada sesi sebelumnya. Adapun harga platinum turun 0,3% menjadi US$1.738,56 per ons troi. Sementara harga palladium naik 0,3% menjadi US$1.364,12 per ons troi.