KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga emas mencapai level tertinggi dalam hampir tiga bulan pada Jumat (21/8/2026) dan berada di jalur kenaikan selama tiga minggu berturut-turut. Harga emas terdorong pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan pengumuman tak terduga dari Departemen Keuangan AS mengenai dukungan likuiditas di pertengahan minggu ini. Jumat (21/8/2026), harga emas spot naik 1,6% menjadi US$ 4.591,01 per ons pada pukul 09.21 GMT, setelah sempat menyentuh angka US$ 4.601,29—level tertinggi sejak 15 Mei—di awal sesi perdagangan. Harga emas telah naik 4,2% sepanjang minggu ini.
Sementara, harga kontrak berjangka emas AS naik 1,7% menjadi US$ 4.648,00. "Emas kembali melonjak setelah sempat terkoreksi pada hari Kamis, saat imbal hasil US Treasury jangka panjang naik menyusul wawancara Menkeu AS Scott Bessent yang gagal meredakan kekhawatiran investor mengenai lonjakan utang AS dan keberlanjutan fiskal," ujar Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank seperti dikutip
Reuters.
Baca Juga: Dolar AS Tertekan, Investor Ragukan Jurus Treasury Ole menambahkan, kekhawatiran investor mengenai tingkat utang AS dan pelemahan dolar menjadi faktor pendorong utama pasar. Ditambah dengan momentum pembelian teknikal baru setelah harga emas melampaui level kunci rata-rata pergerakan 200 hari. Logam mulia ini kini diperdagangkan di atas semua level rata-rata pergerakan utamanya, dengan level rata-rata pergerakan 200 hari saat ini berada di kisaran US$ 4.513,27. Para spekulan yang berdagang berdasarkan sinyal teknis menganggap penembusan harga di atas rata-rata pergerakan (
moving averages) utama sebagai sinyal
bullish. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengisyaratkan kemungkinan peningkatan lebih lanjut dalam pembelian kembali US Treasury setelah departemen tersebut pada hari Rabu mengumumkan akan melipatgandakan volume pembelian kembali untuk sekuritas berjangka waktu lebih panjang.
Dua pejabat Federal Reserve menyatakan sikap hati-hati saat ditanya mengenai bagaimana perubahan manajemen utang Departemen Keuangan dapat memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral AS. "Para pelaku pasar yang optimistis terhadap emas mungkin perlu menunggu sinyal kebijakan terbaru dari The Fed di Jackson Hole pada pekan mendatang, sebelum mencoba kembali menembus level harga US$ 5.000," ujar Han Tan, kepala analis pasar di Bybit. Emas, yang merupakan aset tanpa imbal hasil, kehilangan daya tariknya saat suku bunga naik. Kenaikan harga baru-baru ini menghambat minat pembeli ritel di India, sementara permintaan di Tiongkok—negara konsumen terbesar—tetap stabil.
Baca Juga: Arus Masuk Dana Ekuitas Global Capai Level Tertinggi dalam Tiga Pekan