KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga emas spot turun pada Senin (7/9/2026), setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang kuat memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Investor saat ini menantikan laporan inflasi penting AS yang akan dirilis minggu ini untuk mendapatkan kejelasan lebih lanjut mengenai arah kebijakan Federal Reserve. Senin (7/9/2026), harga emas di pasar spot turun 0,6% menjadi US$ 4.402,86 per ons pada pukul 04.20 GMT, setelah sempat turun 1% pada hari Jumat pekan lalu.
Harga kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember turun 0,6% menjadi US$ 4.447,60.
Baca Juga: Yuan Makin Perkasa Senin (7/9), Tembus Level Tertinggi dalam 3,5 Tahun Data pada hari Jumat menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS meningkat tajam pada bulan Agustus 2026, sementara tingkat pengangguran tetap stabil di angka 4,1%. Hal ini mengindikasikan perbaikan pasar tenaga kerja setelah sempat mengalami kesulitan belakangan ini, sekaligus menjaga kemungkinan kenaikan suku bunga bulan ini tetap terbuka. Data indeks harga produsen (PPI) AS dijadwalkan rilis pada Kamis pekan ini, diikuti oleh data indeks harga konsumen (CPI) pada Jumat pekan ini. "Angka ketenagakerjaan memberikan kejutan positif yang nyata dan menekan harga logam mulia, namun hal itu belum menjadi kepastian mutlak bagi kenaikan suku bunga bulan September. Kepingan teka-teki yang sesungguhnya akan muncul minggu ini melalui data CPI AS," ujar Tim Waterer, kepala analis pasar di KCM Trade seperti dilansir
Reuters. Ia bilang, angka inflasi yang tinggi akan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga oleh The Fed, mendorong kenaikan imbal hasil lebih lanjut, dan memberikan tekanan lebih besar pada harga emas.
Para pelaku pasar memperhitungkan adanya peluang sebesar 58,4% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed tanggal 15-16 September, menurut data dari perangkat FedWatch milik CME. Meskipun emas biasanya dipandang sebagai sarana lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi cenderung mengurangi daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil. Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Jumat bahwa jika The Fed tidak memangkas suku bunga, ia akan menghentikan perdagangan dengan negara-negara yang memiliki surplus perdagangan terhadap Amerika Serikat. Di kawasan Timur Tengah, Iran menyatakan akan meningkatkan upaya untuk mengatasi masalah akibat sanksi AS yang melumpuhkan ekonominya, sementara seorang pejabat senior Iran memperingatkan akan adanya "tanggapan yang menyakitkan" jika negara itu kembali diserang.
Baca Juga: Won Menguat, Dana Pensiun Korea Selatan Hentikan Hedging Valas