Harga Emas Spot Memudar, Tertekan Lonjakan Harga Minyak



KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga emas spot melemah pada Jumat (23/10/2026), menuju penurunan mingguan tertajam lebih dari empat bulan, seiring tingginya harga minyak memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.

Sementara itu, para investor tengah menantikan pertemuan kebijakan Federal Reserve minggu depan.

Jumat (23/10/2026), harga emas di pasar spot turun 0,1% menjadi US$ 4.021,04 per ons pada pukul 05.54 GMT, setelah sempat menyentuh level terendah sejak 20 Juli di awal sesi. Sepanjang minggu ini, harga emas telah terkoreksi 3,6%, menjadikannya kinerja mingguan terburuk sejak Juni.


Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember turun 0,6% menjadi US$ 4.035,50.

Baca Juga: Harga Minyak Naik Lebih dari 1% di Tengah Kekhawatiran Pasokan dari Timur Tengah

Menurut Monte Safieddine, kepala riset pasar di Capital.com, para spekulan berupaya mempertahankan level kunci US$ 4.000 untuk emas. Jika harga menembus jauh di bawah level tersebut, itu akan menjadi sinyal bahwa pasar tidak lagi mengantisipasi pelonggaran suku bunga, melainkan mulai memperhitungkan inflasi yang persisten, imbal hasil (yield) yang tinggi, serta dolar yang lebih kuat.

Harga minyak naik pada Jumat (23/10/2026), setelah serangan kelompok Houthi di Arab Saudi memicu kekhawatiran akan gangguan lebih lanjut terhadap pasokan energi dari Timur Tengah.

Tingginya harga energi memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama, yang meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) dalam memegang aset seperti emas yang tidak memberikan imbal hasil (bunga).

"Eskalasi lebih lanjut di sisi geopolitik berisiko mendorong harga minyak lebih tinggi lagi. Harga minyak yang lebih tinggi memicu kembali kekhawatiran inflasi, meningkatkan imbal hasil obligasi, dan menunda pelonggaran kebijakan oleh The Fed. Kombinasi faktor-faktor ini menjadi sentimen yang sangat berat bagi emas," tambah Safieddine seperti dikutip Reuters.

Perhatian kini tertuju pada pertemuan kebijakan The Fed tanggal 27–28 Oktober serta data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditures/PCE) yang akan dirilis minggu depan. Data ini dipantau dengan saksama karena merupakan tolok ukur inflasi pilihan bank sentral dalam mencapai target inflasi 2%.

Para pelaku pasar sebagian besar memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tidak berubah pada pertemuan minggu depan, namun ekspektasi kenaikan suku bunga di bulan Desember tetap berada di angka 76%.

Baca Juga: Mata Uang Asia Bergerak Bervariasi Jumat (23/10), Rupiah Masih Tertekan Dolar AS