Harga Emas Spot Memudar Usai Trump Melunak Soal Greenland



KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga emas turun pada Kamis (22/1/2026), menghentikan reli tiga sesi ke rekor tertinggi. Harga emas terkoreksi karena meredanya ketegangan atas Greenland.

Harga emas batangan juga semakin tertekan oleh memudarnya ekspektasi penurunan suku bunga Amerika Serikat (AS) dalam waktu dekat.

Kamis (22/1/2026), harga emas spot turun 0,2% menjadi US$ 4.825,22 per ons pada pukul 12:01 GMT, setelah sebelumnya turun hampir 1% di awal sesi.


Harga kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari turun 0,2% menjadi US$ 4.827,80 per ons.

Baca Juga: Harga Emas Stabil, Kekhawatiran Independensi Fed Mengimbangi Sentimen Geopolitik

Harga emas batangan telah naik lebih dari 12% tahun ini, setelah mencapai rekor US$ 4.887,82 per ons pada Rabu lalu, didorong oleh momentum bullish yang dipicu oleh ketegangan geopolitik yang terus berlanjut dan kekhawatiran atas independensi Fed.

"Kembalinya selera risiko membebani permintaan logam safe-haven, sementara pemulihan moderat dolar AS menambah hambatan lebih lanjut bagi emas," kata analis ActivTrades, Ricardo Evangelista, seperti dikutip Reuters.

Presiden AS Donald Trump tiba-tiba menarik kembali ancamannya untuk mengenakan tarif sebagai alat tawar-menawar untuk merebut Greenland pada Rabu (21/1/2026). Trump juga menolak penggunaan kekerasan dan mengisyaratkan bahwa kesepakatan sudah di depan mata untuk mengakhiri sengketa atas wilayah Denmark tersebut.

Sementara itu, para hakim Mahkamah Agung AS pada hari Rabu mengisyaratkan skeptisisme terhadap upaya Trump yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk memecat Gubernur Federal Reserve Lisa Cook dalam kasus yang mempertaruhkan independensi bank sentral.

Trump pada hari Rabu mengindikasikan bahwa ia hampir memilih ketua Fed yang baru. Trump menyukai gagasan untuk mempertahankan penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett di posisinya saat ini.

Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya hingga kuartal ini dan mungkin hingga masa jabatan Ketua Jerome Powell berakhir pada bulan Mei, menurut jajak pendapat Reuters.

Baca Juga: Harga Emas: Goldman Sachs Ramal Sentuh US$5.400 di Akhir 2026, Apa Pemicunya?

Investor kini menantikan data klaim pengangguran mingguan dan data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) bulan November, indikator inflasi pilihan The Fed, untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut tentang kebijakan moneter.

"Tren keseluruhan (untuk emas) tetap naik — bahkan level harga — di atas US$ 5.000, hingga kisaran US$ 5.200 per troy ounce, tampaknya mungkin terjadi bahkan dalam jangka pendek," kata Henrik Marx, kepala perdagangan global di Heraeus Precious Metals.

Di tempat lain, harga perak spot naik 0,1% menjadi US$ 93,29 per ounce, setelah mencapai rekor tertinggi US$ 95,87 pada hari Selasa.

Selanjutnya: Kredit Konsumer Melambat Lagi, Daya Beli Belum Pulih?

Menarik Dibaca: 5 Teh Alami yang Ampuh Turunkan Kolesterol Tinggi Anda, Mau Coba?