KONTAN.CO.ID - LONDON. Harga emas spot naik 1% pada Rabu (9/9/2026), karena mata uang dolar AS bergerak lemah. Sementara itu ketegangan baru antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta data inflasi yang akan datang membuat investor tetap fokus pada prospek suku bunga. Rabu (9/9/2026), harga emas spot naik 1% menjadi US$ 4.399,45 per ons pada pukul 06.33 GMT. Kontrak berjangka emas AS naik tipis 0,1% menjadi US$ 4.443,20. Dolar AS tetap tidak banyak bergerak, membuat logam yang dihargai dalam mata uang AS tersebut lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lain.
"Di pasar emas, terjadi tarik-menarik dalam jangka pendek antara kubu bullish (yang memperkirakan kenaikan harga) dan bearish (yang memperkirakan penurunan harga). Kita mungkin akan melihat pergerakan seperti ini hingga akhir pekan, saat laporan IHK dirilis," kata Kelvin Wong, analis pasar senior di OANDA seperti dikutip
Reuters.
Baca Juga: DeepSeek Bersiap IPO, Sudah Tunjuk CITIC Securities untuk Mempersiapkan Wong menambahkan, meskipun ekspektasi kebijakan hawkish The Fed membebani emas, tren penurunan nilai dolar dan kekhawatiran mengenai defisit fiskal tetap menjadi faktor pendukung harga emas. Pasar sedang menantikan data indeks harga produsen (PPI) AS yang dijadwalkan rilis hari Kamis, diikuti oleh data indeks harga konsumen (IHK) pada hari Jumat. Garda Revolusi Iran menyatakan telah menembakkan rudal balistik ke sebuah pangkalan di Yordania yang digunakan oleh militer AS dan menyerang 10 kapal. Ini setelah AS menyatakan telah menghancurkan lima kapal tanker minyak Iran, dalam sebuah eskalasi tajam dari perang yang telah berlangsung selama enam bulan tersebut. Harga minyak mentah Brent melonjak untuk sesi keempat berturut-turut. Kenaikan harga minyak mentah cenderung memberikan tekanan ke atas terhadap inflasi, karena biaya energi yang lebih tinggi berdampak pada perekonomian secara luas. Menurut CME FedWatch Tool, para pedagang melihat adanya peluang sebesar 60% bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan mendatang.
Meskipun emas secara luas dianggap sebagai sarana lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang tinggi mengurangi daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil bunga. "Logam mulia menghadapi ujian dalam waktu dekat, namun aksi jual besar-besaran lainnya kecil kemungkinannya terjadi," ujar Kelly Xu, ahli strategi komoditas di Alpine Macro. Ketatnya kondisi pasar fisik tetap menjadi isu utama, sementara defisit pasokan secara struktural dapat terus berlanjut di tengah produksi tambang yang tidak elastis serta permintaan yang terus mengalir dari sektor elektrifikasi, elektronik, dan infrastruktur terkait AI, yang memberikan dukungan fundamental bagi perak dalam jangka panjang.
Baca Juga: Harga Minyak Brent Mendekati US$100, Pasar Saham Asia Tertekan Konflik Timur Tengah