KONTAN.CO.ID - Harga emas cenderung stabil pada perdagangan Rabu (26/8/2026) di tengah penantian investor terhadap data inflasi Amerika Serikat (AS). Data tersebut akan menjadi petunjuk penting mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun 2% Rabu (26/8), Iran dan Oman Bahas Pembukaan Selat Hormuz Mengutip
Reuters, harga emas spot nyaris tidak berubah di level US$4.654,17 per ons troi pada pukul 00.11 GMT. Harga emas sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan pada perdagangan Selasa. Sementara itu, harga emas berjangka AS naik 0,4% menjadi US$4.711,40 per ons troi. Perhatian utama pasar tertuju pada data Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index AS untuk Juli yang merupakan indikator inflasi pilihan The Fed. Data tersebut dijadwalkan dirilis pada Rabu pukul 12.30 GMT atau sekitar 19.30 WIB. Data inflasi tersebut akan menjadi salah satu pertimbangan investor dalam memperkirakan arah kebijakan moneter The Fed, khususnya terkait peluang perubahan suku bunga pada September.
Baca Juga: AS Gelar Sayembara Berhadiah Hingga Rp 177 Miliar untuk 5 Orang Ini Pada awal Agustus, data menunjukkan penurunan tenaga kerja nonpertanian AS yang tidak terduga. Sementara itu, data inflasi konsumen berada sesuai ekspektasi. Perkembangan tersebut telah mengurangi ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada September. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan probabilitas sebesar 60,4% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada bulan depan. Suku bunga yang lebih rendah cenderung mendukung harga emas karena emas merupakan aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga. Penurunan suku bunga juga dapat menekan imbal hasil aset berbasis dolar sehingga meningkatkan daya tarik emas.
Baca Juga: Harga Minyak Turun Lebih dari 3%, Investor Abaikan Sanksi AS Terhadap Iran Pasar Menanti Sinyal The Fed Selain data PCE, investor juga akan mencermati pidato Ketua The Fed Kevin Warsh pada Jumat dalam simposium Jackson Hole. Pidato tersebut berpotensi memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS, terutama terkait keseimbangan antara pengendalian inflasi dan kondisi perekonomian. Di pasar global, investor juga mencermati perkembangan konflik Iran. Iran mengatakan telah kembali melakukan pembicaraan dengan Oman terkait pengelolaan Selat Hormuz di tengah meningkatnya tekanan ekonomi dari AS. Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva mengatakan ekonomi global sejauh ini mampu menghadapi guncangan energi akibat perang Iran dengan lebih baik dari yang diperkirakan.
Baca Juga: Apple Gebrak Pasar AI, Mac Mini dan Mac Studio Baru Meluncur Namun, Georgieva memperingatkan memburuknya kondisi fiskal di sejumlah negara yang tercermin dari kenaikan imbal hasil obligasi dan terhentinya proses penurunan inflasi. Dari sisi perdagangan, Kanada juga memberlakukan tarif balasan terhadap sekitar US$20 miliar impor tahunan dari AS sebagai respons terhadap tarif terbaru Washington.
Sementara itu, permintaan emas dari China turut menjadi perhatian. Impor bersih emas China melalui Hong Kong pada Juli meningkat sekitar 11% dibandingkan Juni, berdasarkan data Departemen Sensus dan Statistik Hong Kong. Harga Perak dan Logam Mulia Lain Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot naik 0,2% menjadi US$68,80 per ons troi. Harga platinum juga menguat 0,1% menjadi US$1.858,91 per ons troi. Sementara palladium naik lebih tinggi, yakni 1,1% menjadi US$1.341,23 per ons troi.