KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas melanjutkan tren pelemahan sepanjang Juni 2026. Koreksi dipicu kombinasi penguatan dolar Amerika Serikat (AS), ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama, serta meredanya ketegangan geopolitik yang mengurangi minat investor terhadap aset
safe haven. Berdasarkan data Bloomberg, harga emas spot turun 12,07% secara bulanan atau
month on month (MoM) dari US$ 4.593 per ons troi pada Mei menjadi US$ 4.038 per ons troi pada Juni. Pada perdagangan Rabu (1/7) pukul 17.39 WIB, harga emas spot kembali melemah ke level US$ 3.992 per ons troi. Sementara itu, mengacu pada laman Logam Mulia, harga emas Antam turun 5,19% secara bulanan menjadi Rp 2.630.000 per gram pada Juni, dari Rp 2.774.000 per gram pada Mei.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Terkoreksi pada Kamis (2/7), Cermati Sentimen Ini Analis PT Finex Bisnis Solusi Future, Brahmantya Himawan mengatakan, koreksi harga emas pada Juni dipengaruhi tiga faktor utama.
Pertama, sikap bank sentral AS, The Fed, yang masih cenderung hawkish membuat ekspektasi pasar terhadap suku bunga tinggi bertahan lebih lama.
Kedua, penguatan dolar AS yang diikuti kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS mendorong investor mengalihkan dana ke aset berbasis dolar.
Ketiga, meredanya ketegangan geopolitik setelah adanya kemajuan pembicaraan AS-Iran dan membaiknya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mengurangi permintaan terhadap aset
safe haven. "Penurunan harga minyak juga meredakan kekhawatiran inflasi sehingga tekanan terhadap emas semakin besar," ujar Brahmantya kepada Kontan, Rabu (1/7). Menurut Brahmantya, kebijakan The Fed dan penguatan dolar AS menjadi faktor yang paling dominan dalam membentuk pergerakan harga emas sepanjang Juni. Ia menjelaskan, inflasi AS yang masih relatif tinggi membuat pasar menilai The Fed belum memiliki alasan kuat untuk segera melonggarkan kebijakan moneternya. Di sisi lain, suku bunga tinggi membuat dolar AS semakin menarik bagi investor. "Ketika isu energi global kembali menjadi perhatian, investor lebih memilih memegang dolar untuk sementara waktu. Akibatnya, emas yang tidak memberikan imbal hasil menjadi relatif kurang menarik," kata Brahmantya. Brahmantya menambahkan, pelemahan harga emas Antam tidak sedalam emas spot global karena dipengaruhi faktor domestik. Selain mengikuti pergerakan harga emas dunia, harga emas Antam juga dipengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta permintaan emas fisik di dalam negeri. Menurutnya, pelemahan rupiah membantu menahan penurunan harga emas Antam, sementara permintaan emas fisik yang masih cukup baik turut menopang harga di pasar domestik. Memasuki semester II-2026, Brahmantya memperkirakan harga emas masih akan bergerak fluktuatif. Selama The Fed mempertahankan suku bunga tinggi dan dolar AS tetap kuat, ruang kenaikan harga emas diperkirakan masih terbatas. Namun, apabila pasar mulai melihat peluang penurunan suku bunga atau ketidakpastian geopolitik kembali meningkat, harga emas berpotensi kembali menguat. Ia memperkirakan harga emas spot pada semester II-2026 bergerak di kisaran US$ 3.700 hingga US$ 3.900 per ons troi. Sementara itu, harga emas Antam diproyeksikan berada di rentang Rp 2.000.000 hingga Rp 2.300.000 per gram.
Di tengah volatilitas tersebut, Brahmantya menilai investor tidak perlu panik menghadapi koreksi harga emas. Menurutnya, kondisi saat ini justru dapat dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi secara bertahap, terutama bagi investor jangka panjang. "Koreksi emas kali ini lebih banyak dipicu oleh menguatnya dolar dan ekspektasi suku bunga tinggi, bukan karena daya tarik emas hilang. Ketika pasar terlalu fokus pada dolar, investor jangka panjang biasanya mulai melakukan akumulasi secara bertahap karena mereka melihat nilai, bukan sekadar harga," ujar Brahmantya.
Baca Juga: Mitratel (MTEL) Tawarkan Dividend Yield Hingga 5%, Menarikkah Untuk Diburu? Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News