Harga Emas Spot Turun 1,5%, Pasar Antisipasi The Fed Naikkan Suku Bunga



KONTAN.CO.ID - Harga emas kembali tertekan pada perdagangan Senin (28/9/2026), turun lebih dari 1% karena kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve.

Melansir Reuters, harga emas spot turun 1,5% menjadi US$ 4.223,95 per ons troi pada pukul 01.17 GMT. Sementara itu, harga emas berjangka AS juga turun 1,5% menjadi US$ 4.257,90 per ons troi.

Analis pasar KCM Trade Tim Waterer mengatakan, kombinasi kenaikan imbal hasil obligasi dan harga minyak masih menjadi tekanan bagi harga emas.


Baca Juga: Indeks KOSPI Anjlok Lebih dari 2% Pagi Ini (28/9): Saham Produsen Chip Merosot

"Harga minyak naik akibat sinyal yang beragam mengenai aliran pasokan, sehingga inflasi kembali menjadi perhatian utama investor," kata Waterer.

Harga minyak naik lebih dari 1% pada perdagangan Senin setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri konflik.

Iran sendiri menegaskan bahwa penyelesaian konflik hanya dapat dicapai melalui jalur diplomasi.

Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed

Tekanan terhadap emas juga meningkat karena pasar memperkirakan The Fed masih akan menaikkan suku bunga.

The Fed telah menaikkan suku bunga pada awal September sebesar 25 basis poin sehingga kisaran target suku bunga menjadi 3,75%-4%.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober mencapai 66%.

Baca Juga: Madonna, Sabrina Carpenter dan Lisa BLACKPINK Menang di MTV VMA 2026

Kenaikan harga energi dapat mendorong inflasi dengan meningkatkan biaya produksi dan transportasi di berbagai sektor ekonomi. Kondisi tersebut dapat membuat bank sentral mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.

Emas memang kerap dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, emas tidak memberikan imbal hasil bunga sehingga kenaikan suku bunga meningkatkan biaya peluang untuk memegang logam mulia tersebut.

Perhatian investor selanjutnya tertuju pada serangkaian data ekonomi AS yang dirilis pekan ini, termasuk lowongan pekerjaan, laporan ketenagakerjaan ADP, indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE), serta data nonfarm payrolls.

"Data inflasi atau ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan dapat mempertahankan tekanan kenaikan yield obligasi dan semakin membebani harga emas," ujar Waterer.

Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack juga mengatakan pada Jumat (25/9) bahwa dirinya mengkhawatirkan inflasi yang terus tinggi dapat membuat masyarakat AS terbiasa menerima kenaikan harga sebagai kondisi normal.

Menurut Hammack, bank sentral tidak boleh membiarkan kondisi tersebut terjadi.

Baca Juga: Dolar AS Menguat Senin (28/9), Pasar Antisipasi The Fed Lebih Hawkish

Harga logam mulia lainnya ikut turun

Tekanan tidak hanya terjadi pada emas. Harga perak spot turun 2,6% menjadi US$ 62,64 per ons troi.

Harga platinum juga melemah 2,1% menjadi US$ 1.741,45 per ons troi. Sementara harga palladium turun 2,1% menjadi US$ 1.239,95 per ons troi.

Pergerakan harga logam mulia pekan ini akan sangat dipengaruhi oleh data inflasi dan pasar tenaga kerja AS.

Data yang menunjukkan tekanan harga masih tinggi berpotensi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga dan meningkatkan tekanan terhadap emas.

Baca Juga: China Siapkan Astronaut Pakistan Jadi Warga Asing Pertama di Stasiun Tiangong