Harga Emas Spot Turun 6 Hari Berturut-turut pada Senin (2/10)



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas memperpanjang penurunan untuk sesi keenam berturut-turut pada hari Senin (2/10) untuk mencapai level terendah dalam tujuh bulan terakhir.

Terseret penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan prospek kenaikan suku bunga AS yang mengurangi kilau emas.

Melansir Reuters, harga emas spot turun 0,8% pada US$1.835,40 per ons troi, terendah sejak 10 Maret. Sedangkan, harga emas berjangka AS tergelincir 0,7% menjadi US$1.853,00.


"Ada perkiraan bahwa suku bunga akan lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama, yang telah menjadi elemen bearish di pasar logam mulia. Harga emas dapat turun di bawah US$1.800 dalam waktu dekat," kata Jim Wyckoff, analis senior di Kitco Metals.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah di Perdagangan Awal Pekan, Senin (2/10)

"Tren di pasar mata uang cenderung lebih kuat dan bertahan lebih lama. Apresiasi dolar AS mungkin tidak akan berakhir dalam waktu dekat, sehingga menekan pasar emas."

Dolar AS naik 0,4%, membuat emas batangan kurang menarik bagi pemegang mata uang lainnya.

Para pedagang memperkirakan peluang 55% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada kisaran saat ini 5,25%-5,50% tahun ini, menurut FedWatch CME tool.

Sejak menguat di atas level kunci US$2.000 per ons troi pada awal Mei, harga emas telah turun lebih dari 11% atau US$230.

Tertekan oleh kenaikan tajam pada imbal hasil US Treasury, membuat emas tanpa imbal hasil menjadi kurang menarik.

Baca Juga: Harga Emas Spot ke US$1.846,29 pada Senin (2/10), Level Terendah 7 Bulan

Fokus pasar saat ini bergeser ke pidato Ketua The Fed Jerome Powell di kemudian hari serta pada data lowongan pekerjaan, jumlah perekrutan swasta dan penggajian non-pertanian AS selama seminggu.

Di tempat lain, harga perak spot turun 3,4% ke level terendah lebih dari enam bulan di US$21,40 per ons troi.

"Kekuatan dalam instalasi PV surya dan meningkatnya penetrasi EV secara global harus mendukung pertumbuhan yang sehat dalam permintaan industri perak untuk tahun 2023-25 dan tetap menjadi penarik harga," tulis analis Citi dalam sebuah catatan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto