Harga Emas Spot Turun Tertekan Data Ekonomi AS dan Penguatan Dolar



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas jatuh pada hari Kamis (26/1). Dolar yang lebih kuat dan data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang kuat yang dapat mendorong Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi lebih lama.

Melansi Reuters, harga emas spot merosot 0,9% menjadi US$1.929,43 per ons troi setelah tergelincir sebanyak US$1.919,49. Harga juga mencapai level tertinggi sejak April 2022 pada level $1.949,09 di awal sesi.

Sementara, harga emas berjangka AS turun 0,6% menjadi $1.931,20.


Perekonomian AS mempertahankan laju pertumbuhan yang kuat pada kuartal keempat 2022 karena konsumen meningkatkan pengeluaran untuk barang. Tetapi momentum tersebut tampaknya telah melambat jauh menjelang akhir tahun.

Indeks dolar naik 0,4%, bertahan di dekat level tertinggi sesi perdagangan dan membuat emas kurang menarik bagi pemegang mata uang lainnya. Imbal hasil obligasi juga mendekati sesi tertingginya, membebani bullion.

"Pengambilan keseluruhan dari data ini adalah ekonomi dan pasar tenaga kerja tetap tangguh, penurunan konsumsi pribadi di Q4 mungkin didorong oleh sentimen, tetapi secara keseluruhan tentu memberi ruang The Fed untuk menjadi lebih tinggi lebih lama," kata Tai Wong,  senior trader di Heraeus Precious Metals di New York.

Baca Juga: Harga Emas Turun Tipis Dari Puncak 9 Bulan, Pasar Menunggu Data PDB AS

Klaim pengangguran awal juga turun lebih dari yang diperkirakan, menandakan pasar tenaga kerja yang ketat.

Pasar uang memperkirakan kenaikan suku bunga 25 basis poin dari pertemuan dua hari The Fed minggu depan. Dengan tingkat terminal 4,9% pada bulan Juni, masih di bawah tingkat 5% yang didukung oleh banyak pembuat kebijakan.

“Angka-angka pengeluaran konsumen pribadi inti pada hari Jumat menjelang pertemuan minggu depan akan bermain di pikiran bulls dan juga bearish,” kata analis independen Ross Norman.

Suku bunga yang lebih rendah cenderung bermanfaat untuk emas batangan, mengurangi biaya peluang untuk memegang aset yang tidak menghasilkan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Yudho Winarto