Harga Emas Stabil di Tengah Gejolak Iran, Minyak Turun dan Dolar Melemah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas global bergerak stabil pada perdagangan Kamis (21/5/2026) setelah sempat tertekan hingga 1% di awal sesi. 

Pergerakan ini terjadi di tengah turunnya harga minyak akibat ketidakpastian arah penyelesaian konflik antara Amerika Serikat (AS)–Israel dan Iran, yang turut mempengaruhi sentimen pasar komoditas global.

Mengutip Reuters, harga emas spot tercatat naik tipis 0,1% menjadi US$4.547,54 per ons pada pukul 02.04 waktu setempat, setelah sebelumnya sempat turun hingga 1%. Sementara itu, emas berjangka AS untuk pengiriman Juni ditutup melemah tipis 0,1% di level US$4.542,50 per ons.


Di sisi lain, harga minyak dunia mengalami volatilitas tinggi dan cenderung melemah setelah sebelumnya sempat naik sekitar 3%. Pasar masih dibayangi ketidakpastian arah konflik geopolitik yang belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian.

Baca Juga: Harga Emas Stabil, Pelemahan Dolar Mengimbangi Pudarnya Harapan Penurunan Suku Bunga

"Turunnya harga minyak dan mundurnya dolar dari level tertinggi enam minggu terakhir seharusnya mendukung emas dalam jangka pendek, meski perdagangan masih akan cenderung hati-hati," ujar Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals.

Ia menambahkan, dinamika kesepakatan geopolitik yang kerap tidak konsisten membuat pelaku pasar memilih bersikap lebih waspada dalam mengambil posisi.

Sejak konflik pecah pada akhir Februari, harga emas tercatat telah terkoreksi lebih dari 14%. Ketegangan tersebut sempat mengganggu arus pelayaran di Selat Hormuz, mendorong kenaikan harga energi, serta memicu kekhawatiran inflasi global.

Dari sisi makroekonomi, pelemahan dolar AS turut membuat emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun sekitar 0,2%, sehingga menurunkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Baca Juga: Harga Emas Stabil, Data Ekonomi AS Memperkuat Spekulasi Penurunan Suku Bunga The Fed

Namun, tekanan terhadap emas masih datang dari ekspektasi kebijakan moneter ketat. Lonjakan harga minyak yang berpotensi mendorong inflasi membuat bank sentral, termasuk The Federal Reserve, diperkirakan menahan atau bahkan menaikkan suku bunga.

"Inflasi yang terdorong kenaikan harga minyak memberi tekanan bagi bank sentral untuk mempertahankan atau menaikkan suku bunga. Ini menjadi tantangan bagi emas dalam jangka pendek," kata analis UBS Giovanni Staunovo.

Meski dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, emas biasanya kurang menarik dalam periode suku bunga tinggi.

Baca Juga: Harga Emas Stabil, Tenggat Waktu Trump untuk Iran Membuat Pasar Waspada

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang sebesar 58% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin hingga akhir tahun ini. Angka tersebut naik dari 48% sehari sebelumnya.

Sementara itu, logam mulia lain turut bergerak menguat. Harga perak spot naik 0,9% menjadi US$76,63 per ons, platinum menguat 0,6% ke US$1.962, dan palladium naik 1,1% ke US$1.384,50 per ons.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News