KONTAN.CO.ID - Harga emas bergerak stabil pada perdagangan Kamis (16/7/2026) pagi setelah data terbaru Amerika Serikat (AS) menunjukkan tekanan inflasi mulai mereda. Namun, optimisme tersebut tertahan oleh meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak naik dan memunculkan kembali kekhawatiran terhadap inflasi energi serta potensi kenaikan suku bunga.
Baca Juga: Argentina Bangkit Dramatis, Scaloni: Tim Kami Bermain Baik Saat Tertekan Mengutip
Reuters, harga emas spot relatif tidak berubah di level US$ 4.056,59 per ons troi pada pukul 00.46 GMT. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman Agustus naik 0,3% menjadi US$ 4.062,50 per ons troi. Kenaikan harga minyak berlanjut untuk hari keempat berturut-turut setelah Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sistem pertahanan pantai dan lokasi rudal Iran. Serangan tersebut dilakukan setelah Presiden Donald Trump kembali memberlakukan blokade laut terhadap seluruh pelabuhan Iran. Sebagai respons, Iran mengancam akan menghentikan lebih banyak ekspor energi dari kawasan tersebut dan menyatakan sedang menghadapi "perang eksistensial" melawan Amerika Serikat.
Baca Juga: Tuchel: Inggris Bukan Dikutuk, Kekalahan dari Argentina Murni Soal Sepak Bola Di sisi lain, data ekonomi menunjukkan tekanan inflasi di AS mulai mereda sebelum konflik Timur Tengah kembali memanas. Indeks Harga Produsen (
Producer Price Index/PPI) AS secara tak terduga turun pada Juni dan mencatat penurunan terbesar dalam 14 bulan terakhir. Penurunan ini terutama dipicu oleh melemahnya harga produk energi, sehingga memperkuat indikasi bahwa inflasi sedang melandai sebelum lonjakan ketegangan geopolitik terbaru. Ketua Federal Reserve Kevin Warsh pekan ini kembali menegaskan komitmennya untuk menurunkan inflasi, meski belum memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga berikutnya.
Baca Juga: Perang AS-Iran Makin Bikin Was-Was, Harga Minyak Dunia Naik Lagi, Kamis (16/7) Sementara itu, Gubernur The Fed Lisa Cook mengatakan dirinya "siap bertindak" apabila inflasi tidak segera menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Presiden Federal Reserve New York John Williams juga menyatakan bahwa meskipun inflasi masih "jelas terlalu tinggi", terdapat alasan untuk meyakini bahwa laju inflasi telah mencapai puncaknya dan akan mulai menurun dalam waktu dekat.
Dari Asia, pertumbuhan ekonomi China pada kuartal II 2026 tercatat sebagai yang paling lambat dalam lebih dari tiga tahun, menambah kekhawatiran terhadap prospek ekonomi global. Di sektor pertambangan, Fury Gold Mines mengumumkan penghentian sementara kegiatan eksplorasi dan pengeboran di proyek Eau Claire, Quebec utara, Kanada, setelah seluruh pekerja dievakuasi akibat kebakaran hutan yang terjadi di sekitar lokasi.
Baca Juga: Bank Sentral Korea Selatan Naikkan Suku Bunga ke 2,75%, Sesuai Ekspektasi Pasar Sementara itu, logam mulia lainnya bergerak melemah. Harga perak spot turun 0,3% menjadi US$ 57,61 per ons troi, platinum turun 0,3% ke US$ 1.668,43 per ons troi, dan palladium juga terkoreksi 0,3% menjadi US$ 1.310,36 per ons troi.