Harga Emas Stabil Selasa (9/6), Pelaku Pasar Cermati Gencatan Senjata Iran-Israel



KONTAN.CO.ID - Harga emas bergerak relatif stabil pada perdagangan Selasa (9/6/2026), seiring pelaku pasar masih mencermati perkembangan gencatan senjata antara Iran dan Israel serta menunggu data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dinilai krusial bagi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Mengutip Reuters, harga emas spot naik tipis 0,1% menjadi US$ 4.333,91 per ons troi pada pukul 04.04 GMT. Pada perdagangan sebelumnya, logam mulia ini sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari dua bulan.

Baca Juga: Ekspor dan Impor China Meningkat di Mei 2026, Tapi ke Pasar AS Turun


Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus turun 0,1% ke level US$ 4.358,80 per ons troi.

Chief Market Analyst KCM Trade Tim Waterer mengatakan, pergerakan emas cenderung terbatas karena investor masih meragukan keberlangsungan gencatan senjata antara Iran dan Israel.

Di saat yang sama, pasar juga bersikap hati-hati menjelang rilis data inflasi AS pekan ini yang berpotensi memengaruhi prospek kebijakan moneter The Fed.

"Emas bergerak relatif datar karena pelaku pasar masih skeptis terhadap ketahanan gencatan senjata Iran-Israel dan memilih menunggu data inflasi AS yang akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan The Fed," ujar Waterer.

Sebelumnya, Iran dan Israel pada Senin (8/6) menyatakan menghentikan serangan satu sama lain setelah adanya seruan Presiden AS Donald Trump.

Baca Juga: Ekspor China Naik 19,4% pada Mei 2026, Ditopang Permintaan AI dan Aksi Borong Barang

Namun, Teheran memperingatkan bahwa serangan dapat kembali dilakukan jika Israel melanjutkan operasi militernya terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon.

Dari sisi kebijakan moneter, pasar kini semakin memperhitungkan kemungkinan suku bunga AS tetap tinggi lebih lama.

Goldman Sachs bahkan memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga hingga sepanjang 2026 dan baru mulai memangkasnya pada 2027. Proyeksi tersebut didasarkan pada masih kuatnya aktivitas ekonomi dan pasar tenaga kerja AS.

Data CME FedWatch menunjukkan pelaku pasar kini memperkirakan peluang lebih dari 70% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember 2026.

Fokus investor selanjutnya tertuju pada data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) AS periode Mei yang akan dirilis pada Rabu (10/6).

Baca Juga: Perkuat Poros Beijing-Pyongyang, Kim Jong Un Nyatakan Dukung Penuh Prinsip Satu China

Data tersebut akan menjadi indikator penting untuk menilai apakah tekanan inflasi masih cukup kuat sehingga mendorong bank sentral AS mempertahankan sikap hawkish.

Menurut Waterer, prospek kenaikan harga emas hingga mencapai US$ 5.500 per ons troi pada akhir tahun masih terbuka.

Namun, skenario tersebut membutuhkan dukungan dari beberapa faktor lain, termasuk pelemahan harga minyak, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS, dan melemahnya dolar AS.

"Target emas di level US$ 5.500 per ons troi masih mungkin tercapai pada akhir tahun, terutama jika permintaan dari bank sentral tetap kuat. Namun, hal itu juga memerlukan dukungan dari harga minyak, yield obligasi, dan dolar AS yang bergerak lebih rendah," jelasnya.

Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot turun 0,5% menjadi US$ 67,85 per ons troi. Harga platinum melemah 0,1% ke level US$ 1.752,45 per ons troi, sedangkan palladium menguat 1% menjadi US$ 1.216,42 per ons troi.