KONTAN.CO.ID - Harga emas cenderung datar pada Rabu (25/2/2926) setelah anjlok lebih dari 1% pada sesi sebelumnya, tertekan oleh penguatan dolar AS yang membuat logam mulia berdenominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri. Melansir
Reuters, harga emas spot stabil di US$5.146,18 per ons troi pada 00.54 GMT, setelah sebelumnya sempat menyentuh level tertinggi lebih dari tiga pekan.
Baca Juga: OCBC Proyeksikan Pendapatan 2026 Stabil, Laba Kuartal IV 2025 Naik 3% Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April turun 0,2% menjadi US$5.165,10. Indeks dolar AS naik tipis 0,02%, memperpanjang kenaikan 0,14% pada sesi sebelumnya. Faktor Penggerak Pasar Penguatan dolar terjadi di tengah ketidakpastian kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump. Pemerintah AS mulai memberlakukan tarif impor global sementara sebesar 10% pada Selasa, dengan wacana kenaikan hingga 15%, meski kebijakan tersebut menimbulkan kebingungan setelah kekalahan pemerintah di Supreme Court of the United States pekan lalu.
Baca Juga: Inflasi Australia Lampaui Perkiraan, Tekanan Kenaikan Suku Bunga Menguat Dari sisi kebijakan moneter, dua pejabat Federal Reserve memberi sinyal belum ada urgensi untuk mengubah suku bunga dalam waktu dekat. Namun, pasar masih memperkirakan tiga kali pemangkasan suku bunga masing-masing 25 basis poin tahun ini, menurut CME FedWatch Tool. Sementara itu, sentimen pasar global membaik setelah startup AI berbasis San Francisco, Anthropic, meluncurkan 10 fitur baru untuk pelanggan bisnisnya, memicu kembali optimisme bahwa kecerdasan buatan dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan. Di ranah geopolitik, Iran dan AS dijadwalkan menggelar putaran ketiga pembicaraan nuklir di Jenewa pada Kamis, menurut Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi.
Baca Juga: Warner Bros Buka Kembali Negosiasi dengan Paramount, Kesepakatan Netflix Terancam Logam Mulia Lainnya
Harga perak spot turun 0,2% menjadi US$87,13 per ons troi, platinum naik 0,1% menjadi US$2.169,59 per ons troi, dan palladium bertambah 0,2% menjadi US$1.772,45 per ons. Pergerakan emas dalam jangka pendek diperkirakan masih sensitif terhadap arah dolar AS dan ekspektasi suku bunga, di tengah kombinasi faktor geopolitik dan kebijakan perdagangan yang terus berubah.