KONTAN.CO.ID - Harga emas melesat menembus level historis di atas US$ 4.600 per ons troi pada Senin (12/1/2026), dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik serta ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat (AS). Kenaikan ini menandai rekor tertinggi pertama emas pada 2026, setelah mencetak serangkaian rekor sepanjang tahun lalu. Seiring reli harga emas, minat investor terhadap logam mulia ini juga semakin meningkat.
Melansir
Reuters, berikut cara investor berinvestasi emas serta faktor-faktor yang menggerakkan pasar emas global.
Baca Juga: Ekspansi Jadi Penopang Prospek Hermina (HEAL) pada 2026, Semak Rekomendasinya Cara Berinvestasi Emas Pasar spot Investor besar dan institusi umumnya membeli emas melalui bank-bank besar. Harga emas di pasar spot ditentukan oleh dinamika penawaran dan permintaan secara real time. London menjadi pusat paling berpengaruh dalam perdagangan emas spot dunia, dengan London Bullion Market Association (LBMA) menetapkan standar perdagangan dan menyediakan kerangka transaksi
over-the-counter (OTC) bagi bank, dealer, dan institusi. Selain London, pusat perdagangan emas utama lainnya berada di China, India, Timur Tengah, dan AS. Pasar berjangka (futures) Investor juga dapat berinvestasi emas melalui kontrak berjangka, yakni transaksi jual beli komoditas pada harga tertentu untuk penyelesaian di masa depan. COMEX, yang merupakan bagian dari New York Mercantile Exchange (NYMEX), menjadi pasar emas berjangka terbesar di dunia dari sisi volume transaksi. Di Asia, Shanghai Futures Exchange dan Tokyo Commodity Exchange (TOCOM) juga menjadi pemain utama.
Baca Juga: Penguatan Dolar Indeks (DXY) Dinilai Normal, Rupiah Tetap Tertekan di Kuartal I-2026 Produk investasi berbasis bursa (ETF/ETP) Produk exchange-traded fund (ETF) atau exchange-traded product (ETP) emas menerbitkan sekuritas yang didukung emas fisik, sehingga investor bisa memperoleh eksposur harga emas tanpa harus menyimpan logam mulia secara langsung. Menurut data World Gold Council, ETF emas global mencatat arus dana masuk tahunan tertinggi sepanjang sejarah pada 2025, mencapai US$ 89 miliar, dengan kontribusi terbesar berasal dari Amerika Utara. Emas batangan dan koin Konsumen ritel dapat membeli emas fisik dalam bentuk batangan maupun koin melalui toko logam mulia atau platform daring. Keduanya tetap menjadi pilihan populer untuk investasi emas fisik.
Baca Juga: Harga Emas Bullish, Merdeka Copper (MDKA) Fokus Efisiensi dan Optimalisasi Tambang Faktor Pendorong Pasar Emas Minat investor dan sentimen pasar Peningkatan minat dari dana investasi dalam beberapa tahun terakhir menjadi faktor utama pergerakan harga emas. Sentimen pasar yang dipengaruhi oleh tren global, berita, dan peristiwa geopolitik sering memicu aksi spekulatif beli maupun jual. Nilai tukar mata uang Emas kerap digunakan sebagai lindung nilai terhadap volatilitas mata uang. Secara historis, harga emas bergerak berlawanan arah dengan dolar AS. Pelemahan dolar membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.
Baca Juga: Saham Big Bank Kompak Menguat, Hanya BBCA yang Terlempar ke Zona Merah Kebijakan moneter dan ketegangan politik Emas dikenal sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian. Kebijakan tarif perdagangan Presiden AS Donald Trump dalam setahun terakhir telah memicu perang dagang global dan mengguncang pasar mata uang. Ketegangan geopolitik, termasuk isu Venezuela dan pernyataan agresif terkait Greenland, turut menambah volatilitas pasar. Selain itu, kebijakan bank sentral global juga berpengaruh. Suku bunga yang lebih rendah menurunkan biaya peluang memegang emas karena logam mulia ini tidak memberikan imbal hasil bunga.
Baca Juga: Kekhawatiran Independensi The Fed, Rupiah Melemah ke Rp 16.855 per Dolar AS Cadangan emas bank sentral Permintaan emas dari bank sentral tetap kuat dalam beberapa tahun terakhir, didorong ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Survei tahunan World Gold Council pada Juni lalu menunjukkan semakin banyak bank sentral berencana menambah cadangan emas meski harga sudah tinggi. Pembelian bersih emas oleh bank sentral pada November tercatat sebesar 45 ton, sehingga total pembelian sepanjang 11 bulan pertama 2025 mencapai 297 ton, terutama didorong oleh negara berkembang.
China terus menambah cadangan emasnya. Hingga akhir Desember, cadangan emas Negeri Tirai Bambu mencapai 74,15 juta ons troi, naik dari 74,12 juta ons troi pada bulan sebelumnya, menandai bulan ke-14 berturut-turut China melakukan pembelian emas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News