Harga Emas Terjepit Sentimen Global, Berikut Strategi Akumulasi Bertahap



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Koreksi tajam harga emas dari puncaknya dipandang sebagai fase penyesuaian harga yang sehat ketimbang sinyal hilangnya daya pikat sang logam mulia sebagai aset penyimpan nilai jangka panjang.

Berdasarkan data Trading Economics pukul 16.41 WIB, harga emas spot menguat US$ 28,26 atau 0,69% ke level US$ 4.143,24 per ons troi.

Kendati mencatatkan kenaikan harian, kinerja harga emas dalam sepekan terakhir masih terkoreksi 5,09% dan melorot 6,74% dalam sebulan.


Pembalikan arah harga emas dari area US$ 4.700–US$ 4.860 ke kisaran US$ 4.100 per ons troi dipicu oleh aksi profit taking pasca reli cepat, serta hadirnya tekanan bertubi-tubi dari faktor makroekonomi global.

Baca Juga: Harga Emas Spot dan Antam Ambles, Saatnya Akumulasi atau Tunggu Lagi?

Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menilai bahwa kilau emas saat ini sejatinya sedang diapit oleh empat sentimen penekan utama.

Lonjakan harga minyak mentah akibat eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah (khususnya Iran), ancaman inflasi susulan, melambungnya Indeks Dolar AS (DXY), serta tingginya imbal hasil (yield) US Treasury.

Menurutnya, kombinasi faktor tersebut mengerek peluang The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada Oktober mendatang hingga mencapai 70%.

Kenaikan yield obligasi AS dan penguatan greenback secara simultan mendistorsi opportunity cost dalam mengapit emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Kondisi ini memicu gelombang likuidasi posisi beli oleh investor institusional yang memilih berburu likuiditas instan berbasis kas dolar AS.

Baca Juga: Harga Emas Dibayangi Sentimen Geopolitik, Begini Proyeksinya ke Depan

Meski diapit oleh berbagai sentimen negatif, tekanan tersebut dinilai bersifat reaktif terhadap data jangka pendek.

Secara teknikal pada grafik harian (D1), indikator RSI(14) di kisaran 46,60 dan Stochastic di area 38–42 menunjukkan bahwa tekanan jual mulai mereda, dengan area penyangga kuat berada di kisaran US$ 3.950–US$ 4.000.

Wahyu mengimbau para pemodal agar tidak panik melikuidasi portofolio atau terburu-buru mengambil keputusan all in. Ia menyarankan agar koreksi harga ini dimanfaatkan secara taktis.

"Kita dapat memanfaatkan momentum koreksi ini untuk melakukan akumulasi secara bertahap (dolar cost averaging) dalam porsi yang proporsional, mengingat fungsi fundamental emas sebagai jangkar kekayaan dan lindung nilai jangka panjang tetap solid di tengah ketidakpastian geopolitik global yang belum mereda," ujar Wahyu kepada Kontan, Selasa (29/9/2026).

Di samping itu, fondasi harga emas tetap ditopang oleh jangkar permintaan struktural dari aksi borong bank sentral negara berkembang serta tingginya permintaan fisik dari China, baik melalui People's Bank of China (PBOC) maupun sektor ritel domestik.

Baca Juga: Harga Emas Antam Turun, Analis Ungkap Peluang Akumulasi

Wahyu menegaskan bahwa gejolak harga saat ini tidak melunturkan esensi utama emas sebagai instrumen safe haven. 

"Koreksi tipis pada emas tidak serta merta melunturkan fungsinya sebagai penyimpan nilai jangka panjang," tegas Wahyu.

Memasuki kuartal IV 2026, tekanan dari kebijakan pengetatan moneter diperkirakan mulai priced in di pasar, sehingga membuka peluang pemulihan (rebound) bertahap seiring mendekatnya suku bunga ke titik puncak (terminal rate).

Untuk proyeksi hingga akhir tahun 2026, konsensus menempatkan rentang harga emas pada skenario dasar (base case) di sekitar US$ 4.320 per ons troi, dengan target optimis (bull case) menguji US$ 4.500 hingga US$ 4.650 per ons troi, atau bahkan rentang konsensus lembaga global di US$ 4.800–US$ 4.900 jika The Fed melunak.

Baca Juga: Harga Emas dalam Tren Melemah, Saatnya Lakukan Akumulasi?

Sebaliknya, pada skenario pesimis jika pengetatan agresif berlanjut, batas risiko bawah berada di kisaran US$ 3.950 hingga US$ 3.500 per ons troi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News