Harga Emas Terkoreksi, Analis Sarankan Investor Beli Bertahap



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia masih berpotensi bergerak volatil di tengah ekspektasi suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed) yang lebih tinggi dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Meski demikian, koreksi harga emas dinilai dapat menjadi peluang bagi investor jangka panjang untuk mulai akumulasi aset tersebut secara bertahap.

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 10.54 WIB harga emas di pasar spot turun 1,18% di level US$ 4.091,92 per ons troi. 

Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai, prospek emas dalam jangka menengah hingga panjang masih cukup positif. Namun, tekanan dalam jangka pendek berpotensi berlanjut seiring ekspektasi suku bunga The Fed, kenaikan imbal hasil US Treasury (UST), serta penguatan indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY).


Baca Juga: Transaksi Derivatif Kripto Tembus Rp 4,56 T, Bittime Tekankan Risiko Likuiditas

Di sisi lain, ketidakpastian geopolitik dan permintaan bank sentral masih menjadi faktor pendukung harga emas. Bagi investor domestik, pelemahan rupiah juga perlu diperhitungkan karena dapat membatasi penurunan harga emas dalam denominasi rupiah ketika harga emas global terkoreksi.

"Prospek emas dalam jangka menengah hingga panjang masih cukup positif, tetapi volatilitas dalam jangka pendek berpotensi berlanjut," ujar Lukman kepada Kontan, Kamis (22/10/2026).

Sebelumnya, harga emas spot turun 0,6% menjadi US$ 4.115,50 per ons troi seiring pelaku pasar mencermati arah kebijakan suku bunga The Fed.

Lukman memperkirakan, harga emas global hingga akhir 2026 masih bergerak dalam rentang US$ 4.000-US$ 4.500 per ons troi. Volatilitas diperkirakan tetap tinggi, bergantung pada perkembangan kebijakan moneter AS dan kondisi geopolitik global.

Menurutnya, tekanan suku bunga dan dolar AS yang semakin kuat masih berpotensi mendorong koreksi harga emas. Sebaliknya, peningkatan ketidakpastian geopolitik atau perubahan ekspektasi menuju kebijakan moneter yang lebih akomodatif dapat membuka peluang kenaikan harga.

Di tengah kondisi tersebut, Lukman menyarankan investor jangka panjang memanfaatkan koreksi harga untuk mulai membeli emas secara bertahap, alih-alih langsung menempatkan seluruh dana investasi dalam satu waktu.

"Saya lebih menyarankan pembelian bertahap dibandingkan langsung menginvestasikan seluruh dana, sehingga risiko downside bisa dikurangi," jelasnya.

Baca Juga: Pendapatan Fore Coffee (FORE) Naik 53,3% Jadi Rp 1,6 Triliun hingga Kuartal III-2026

Investor dapat melakukan pembelian secara berkala selama beberapa minggu hingga beberapa bulan sembari memantau arah suku bunga The Fed, pergerakan DXY, dan nilai tukar rupiah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News