Harga Emas Terkoreksi, Begini Proyeksi Kinerja ANTM dan Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski terpapar sentimen pelemahan harga emas dunia dalam beberapa waktu terakhir, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) diyakini tetap berpeluang mencetak kinerja positif pada 2026. 

Seperti yang diketahui, ANTM telah mengumumkan kinerja operasionalnya pada 2025.

Secara tahunan, produksi emas ANTM hingga akhir 2025 tercatat sebesar 743 kilogram (kg) atau turun 27,09% year on year (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya yakni 1.019 kg.


Volume penjualan emas ANTM juga menyusut 14,55% yoy menjadi 37.406 kg pada akhir 2025, dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 43.776 kg.

Baca Juga: Harga Emas Cetak Rekor Tertinggi, Saham Emiten Emas Rawan Koreksi

Meski terjadi penurunan volume produksi dan penjualan, permintaan emas sebagai aset safe haven terus meningkat seiring ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global, fluktuasi pasar keuangan, serta tekanan inflasi.

Alhasil, di tengah volatilitas nilai tukar dan perubahan suku bunga, produk emas ANTM dinilai tetap menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia.

"Kondisi tersebut menjaga kinerja penjualan emas Antam tetap solid dan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kinerja perusahaan," tulis Manajemen ANTM dalam keterbukaan informasi, dikutip Senin (2/2/2026).

Di segmen komoditas bijih nikel, ANTM membukukan produksi sebesar 16,11 juta wet metric ton (wmt) pada 2025, tumbuh 62% yoy dibandingkan 2024 yang sebesar 9,94 juta wmt.

Baca Juga: Harga Emas Makin berkilau, Pertanda Ketidakpastian Ekonomi Makin Tinggi?

Volume penjualan bijih nikel ANTM pada 2025 terealisasi sebesar 14,58 juta wmt atau tumbuh 75% yoy dibandingkan 2024 sebesar 8,35 juta wmt. 

Tahun 2025 menjadi momen di mana ANTM mencetak kinerja produksi dan penjualan bijih nikel tertinggi dalam lebih dari satu dekade terakhir sejak pemberlakuan larangan ekspor mineral. 

"Sepanjang 2025, bijih nikel ANTM dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan industri nikel kelas dua domestik serta mendukung pasokan bahan baku internal bagi produksi feronikel perusahaan di Kolaka," ungkap Manajemen ANTM.

Sayangnya, sepanjang 2025 kinerja komoditas ini dipengaruhi oleh perubahan regulasi terkait harga batas bawah produk. ANTM merealisasikan produksi feronikel sebesar 16.064 ton nikel dalam feronikel (TNi) pada 2025, lebih rendah 20,09% yoy dibandingkan 2024 yang mencapai 20.103 TNi.

Volume penjualan feronikel ANTM juga menurun 45,88% yoy dari 19.452 TNi pada 2024 menjadi 10.528 TNi pada 2025. 

Sebaliknya, ANTM membukukan produksi dan penjualan bauksit tertinggi sepanjang sejarah perusahaan, seiring optimalisasi kapasitas tambang dan meningkatnya serapan pasar domestik.

Baca Juga: Harga Emas Terus Ukir ATH Baru, Cermati Rekomendasi Emiten Produsen Emas Berikut!

Secara kumulatif, produksi bauksit ANTM sepanjang 2025 tercatat sebesar 2,83 juta wmt, melonjak 112% yoy dibandingkan 2024 sebesar 1,33 juta wmt. Volume penjualan bauksit ANTM mencapai 1,89 juta wmt pada 2025, melonjak 157% yoy dari 736.188 wmt pada 2024.

"Produksi bauksit ANTM dialokasikan sebagai bahan baku Pabrik Chemical Grade Alumina (CGA) perusahaan yang dioperasikan oleh PT Indonesia Chemical Alumina (PT ICA), serta untuk memenuhi kebutuhan pelanggan domestik lain," terang Manajemen ANTM.

 
ANTM Chart by TradingView

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, ANTM sebenarnya diuntungkan oleh diversifikasi bisnis ke berbagai komoditas di luar emas yaitu seperti nikel dan bauksit.

Ditambah lagi, ANTM juga merambah sektor hilirisasi kedua komoditas tadi dengan menghasilkan produk feronikel dan alumina.

"Manfaatnya ketika harga bauksit dan nikel naik, maka akan menambah profitabilitas ANTM di tengah tekanan harga emas," ujar dia, Selasa (3/2).

Baca Juga: Lonjakan Harga Emas Antam Ditopang Faktor Global dan Domestik

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menyampaikan, prospek kinerja ANTM pada 2026 tetap solid dengan adanya potensi pergeseran kontribusi utama dari emas ke nikel. 

"Kenaikan volume penjualan bijih nikel yang punya margin tebal bisa jadi kompensasi penurunan kontribusi segmen emas yang marginnya tipis," tutur dia. 

Dalam kondisi seperti saat ini, ANTM perlu fokus memperkuat efisiensi biaya operasional dan percepatan integrasi tambang ke smelter. Hal ini untuk memastikan serapan produksi di area tambang dapat terjaga.  

Di sisi lain, ANTM juga tetap perlu memperkuat penetrasi penjualan emas di pasar ritel yang permintaannya diyakini bakal meningkat. 

Baca Juga: Harga Emas Antam Diproyeksi Capai Rp 3 Juta Per Gram di Kuartal I-2026, Cek Pemicunya

Wafi juga menyoroti langkah ANTM yang baru-baru ini meneken Framework Agreement bersama PT Industri baterai Indonesia (IBI) dan HYD Investment Limited (HYD) asal Hong Kong.

Perjanjian ini dilakukan sehubungan dengan rencana pengembangan hilirisasi nikel dalam rangka inisiatif pengembangan ekosistem baterai terintegrasi di Indonesia. 

Framework Agreement tersebut dipercaya dapat menjadi momentum untuk rerating valuasi ANTM dari perusahaan tambang menjadi perusahaan penyedia material energi. 

Lantas, Wafi merekomendasikan hold saham ANTM dengan target harga di level Rp 3.700 per saham. Di lain pihak, Nafan menyarankan add saham ANTM dengan target harga di level Rp 5.000 per saham.

Selanjutnya: Harga Emas dan Perak Melonjak Tajam, Pulih dari Kejatuhan Terburuk

Menarik Dibaca: Pasca-Pekan Brutal di Pasar Global, Begini Proyeksi Nasib Bitcoin cs

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News