Harga emas terkoreksi, dipicu risalah pertemuan kebijakan The Fed



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas kembali terkoreksi setelah sempat menyentuh level US$ 2.000 per ons troi dua hari lalu. Kamis (20/8) pukul 07.30 WIB, harga emas untuk pengiriman Desember 2020 di Commodity Exchange ada di US$ 1.933,50 per ons troi, turun 1,86% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 1.970,30 per ons troi.

Harga emas kembali terkoreksi setelah dolar melonjak dan imbal hasil Treasury naik setelah risalah rapat Federal Reserve pada Juli yang dirilis Rabu (19/8) menunjukkan pembuat kebijakan menyatakan sedikit dukungan untuk membatasi imbal hasil obligasi.

Baca Juga: Kilau memudar, harga emas anjlok 2% menjauh dari level US$ 2.000


"Salah satu kekhawatiran adalah bahwa Fed mungkin akan mengadopsi kontrol kurva imbal hasil, yang akan menjadi katalis yang kuat untuk berlanjutnya pelemahan dolar, tetapi mereka mengatakan mereka tidak mempertimbangkannya sekarang," kata Edward Moya, analis pasar senior di broker OANDA seperti dikutip Reuters

Moya menambahkan, hal ini akan menjadi hasil yang paling dovish dari rapat kebijakan, tapi kami tidak mendapatkannya.

Membatasi imbal hasil obligasi dapat mengurangi daya tarik utang Departemen Keuangan AS dan menekan mata uang AS, meningkatkan daya pikat logam mulia.

Imbal hasil Treasury AS naik dan dolar melonjak 0,8% setelah risalah, mengakhiri penurunan lima sesi ke level terendah dua tahun.

The Fed menegaskan kembali penurunan ekonomi yang dipicu oleh pandemi virus corona menghadapi jalur yang sangat tidak pasti dan stimulus fiskal tambahan diperlukan untuk mendukung perekonomian.

"Harapan bahwa Fed akan melakukan sesuatu yang lebih telah menjadi katalis untuk aksi jual pada saat ini," kata Jeffrey Sica, pendiri Circle Squared Alternative Investments.

"Mereka tidak memberikan indikasi apapun bahwa mereka akan menciptakan jumlah likuiditas yang diharapkan para investor emas untuk mendapatkan harga di atas $ 2.000," tambah Sica.

Baca Juga: Dollar AS menguat tipis, harga emas melorot ke bawah US$ 2.000

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi