KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia kini tengah mengalami koreksi yang cukup dalam. Setelah sempat mencetak rekor tertinggi pada awal tahun 2026 ini, harga logam mulia kini terkoreksi hingga jatuh ke bawah level psikologis US$ 4.000 per ons troi. Melansir
Trading Economics pada Kamis (25/6/2026) pukul 16.30 WIB, harga emas di pasar spot bertengger di level US$ 3.986,16 atau melemah sebanyak 5,03% dalam sepekan dan 11,53% dalam sebulan terakhir. Harga emas spot saat ini dapat dibilang sudah cukup murah, mengingat pada akhir Januari 2026 lalu sempat terbang hingga menyentuh US$ 5.500 per ons troi.
Baca Juga: Harga Emas Anjlok 11% ke US$ 3900-an, Investor Bisa Akumulasi Bertahap Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan koreksi tersebut dipicu oleh kombinasi sejumlah sentimen negatif, mulai dari meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat (AS), The Fed, akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama dari perkiraan (
higher for longer). Lukman juga menjelaskan, tekanan terhadap harga emas tidak hanya berasal dari sentimen suku bunga The Fed saja. Menurutnya, arus dana investor yang beralih ke saham-saham teknologi dan AI juga turut menekan permintaan emas. “Optimisme terhadap pertumbuhan laba sektor teknologi, ditambah berbagai aksi korporasi besar dan IPO bernilai jumbo seperti SpaceX yang menyerap likuiditas pasar, telah mendorong investor mengurangi eksposur pada aset defensif seperti emas,” ujar Lukman saat dihubungi Kontan, Kamis (25/6/2026). Kondisi tersebut membuat emas kehilangan sebagian daya tariknya sebagai aset lindung nilai. Di saat yang sama, penguatan indeks dolar AS dan tingginya yield obligasi membuat investor lebih memilih instrumen yang menawarkan potensi imbal hasil lebih tinggi. Memang, belakang indeks dolar AS (DXY) mengalami penguatan yang cukup signifikan. Pada Kamis (25/6) indeks dolar AS di level 101,5.
Baca Juga: Harga Emas Berusaha Rebound pada Kamis (25/6) Pagi, Sinyal Bearish Masih Membayangi Kendati demikian, Lukman berpandangan pelemahan harga emas saat ini justru dapat dimanfaatkan investor untuk mulai melakukan akumulasi secara bertahap. Menurut dia, strategi pembelian bertahap atau
dollar cost averaging (DCA) masih relevan diterapkan, baik bagi investor yang telah memiliki emas dalam portofolionya maupun bagi investor yang baru ingin mulai berinvestasi di logam mulia. Untuk prospek jangka menengah hingga akhir tahun, Lukman masih melihat peluang pemulihan harga emas meskipun sejumlah bank investasi mulai memangkas target harga emas setelah koreksi tajam yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Ia memperkirakan harga emas berpotensi mengakhiri tahun 2026 di kisaran US$ 4.600 hingga US$ 4.800 per ons troi. Menurutnya, hambatan utama bagi kenaikan harga emas hingga akhir tahun ini masih berasal dari ekspektasi suku bunga tinggi The Fed serta derasnya aliran dana ke saham teknologi dan AI. Namun, valuasi sektor teknologi yang semakin mahal juga meningkatkan risiko koreksi di pasar saham.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp 18.000 Jadi Rp 2.655.000 Per Gram, Rabu (24/6) Apabila reli saham teknologi dan AI mulai kehilangan momentum atau terjadi peningkatan ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global, sebagian dana investor berpotensi kembali mengalir ke aset
safe haven seperti emas. Sebaliknya, risiko terbesar bagi prospek kenaikan harga emas adalah apabila sektor teknologi dan AI terus mencatat pertumbuhan kuat, imbal hasil obligasi AS tetap tinggi, dan pasar semakin yakin bahwa The Fed akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News