Harga Emas Tertekan Dolar AS dan Yield, Ini Level Penting yang Perlu Dicermati



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan harga emas masih dibayangi tekanan jual dalam jangka pendek. Pelaku pasar perlu mencermati level resistance US$ 4.355 per ons troi yang menjadi salah satu penentu arah harga emas berikutnya.

Analisis Dupoin Futures menilai pergerakan emas pada timeframe Daily masih menunjukkan tekanan bearish yang cukup dominan.

“Kondisi tersebut terlihat dari posisi harga yang belum mampu menembus sekaligus bertahan di atas resistance US$ 4.355 per ons troi. Selama level tersebut belum berhasil dilewati, peluang penurunan harga emas masih terbuka,” ujar Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit dalam risetnya, Selasa (15/9/2026).


Melansir Trading Economics pada Selasa (15/9/2026) pukul 18.35 WIB, harga emas spot diperdagangkan di level US$ 4.283 per ons troi atau melemah 0,36% sehari dan 1,86% dalam sepekan terakhir.

Baca Juga: Laba Sinergi Inti (INET) Meroket 340%, Analis Soroti Valuasi Saham yang Sudah Premium

Geraldo mengatakan, dari sisi fundamental, harga emas masih menghadapi sejumlah sentimen yang cenderung membatasi ruang penguatan. Ekspektasi terhadap kenaikan atau bertahannya suku bunga The Federal Reserve pada level tinggi kembali menguat di tengah perhatian pasar terhadap perkembangan inflasi Amerika Serikat.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi emas karena suku bunga yang tinggi cenderung meningkatkan daya tarik aset berbasis imbal hasil.

Selain itu, kenaikan harga minyak yang dipicu konflik di Timur Tengah juga menjadi perhatian pasar. Harga energi yang lebih tinggi berpotensi meningkatkan risiko inflasi sehingga dapat membuat bank sentral Amerika Serikat lebih berhati-hati dalam melakukan pelonggaran kebijakan moneter.

“Jika tekanan inflasi semakin persisten, pasar dapat memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama,” jelas Geraldo.

Situasi tersebut turut memberikan dukungan terhadap dolar AS dan Treasury yield. Dalam hal ini, yield US Treasury (UST) tenor 10 tahun bahkan saat ini sudah bertengger di level tinggi, yakni 5,0%.

Bagi pasar emas, penguatan dolar AS dan kenaikan yield dapat menjadi tekanan karena meningkatkan opportunity cost dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Baca Juga: Laba Sinergi Inti (INET) Meroket 340%, Analis Soroti Valuasi Saham yang Sudah Premium

Namun, sentimen negatif dari suku bunga dan yield masih berhadapan dengan faktor geopolitik. Eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi meningkatkan permintaan emas sebagai aset safe haven. Ketika ketidakpastian global meningkat, investor cenderung mencari aset yang dinilai lebih defensif.

Kondisi tersebut dapat membantu membatasi pelemahan harga emas meskipun tekanan dari dolar AS dan yield masih berlangsung.

“Pelaku pasar juga perlu memperhatikan volatilitas yang dapat muncul apabila terdapat perubahan signifikan pada ekspektasi suku bunga. Penguatan dolar dan kenaikan Treasury yield dapat memperbesar tekanan terhadap emas, sementara pelemahan USD atau meningkatnya ketegangan geopolitik dapat memberikan ruang bagi emas untuk melakukan rebound,” pungkasnya.

Geraldo pun memprediksi harga emas berpotensi melanjutkan pelemahan menuju US$ 4.223 apabila tekanan jual tetap dominan dan resistance US$ 4.355 per ons troi belum mampu ditembus dalam jangka pendek.

Sebaliknya, kemampuan harga emas bertahan dan menembus level US$ 4.355 per ons troi akan menjadi sinyal yang perlu diperhatikan untuk melihat kemungkinan terjadinya perubahan tren.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News