Harga Emas Tertekan, Lonjakan Minyak dan Suku Bunga Tinggi Picu Kekhawatiran Inflasi



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas dunia melemah dalam perdagangan yang fluktuatif pada Kamis (23/4/2026), seiring lonjakan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi dan mempertahankan ekspektasi suku bunga tinggi. Pelaku pasar juga masih menunggu kejelasan terkait mandeknya pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Berdasarkan data pasar, harga spot emas turun 0,7% menjadi US$4.705,09 per ons pada pukul 02.15 GMT. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Juni melemah 0,6% ke level US$4.722,10 per ons.

Di sisi lain, harga minyak mentah Brent masih bertahan di atas US$100 per barel. Kenaikan ini didorong oleh penurunan stok bahan bakar di AS yang lebih besar dari perkiraan serta minimnya kemajuan dalam negosiasi damai.


Analis pasar KCM Trade, Tim Waterer, menyebut bahwa kembalinya harga minyak Brent ke level tiga digit memperkuat kekhawatiran inflasi dan menekan pergerakan emas. Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan produksi, sehingga mendorong inflasi lebih tinggi.

Baca Juga: Iran Sita Kapal di Selat Hormuz, Harga Minyak Tembus US$100

Inflasi dan Suku Bunga Tekan Daya Tarik Emas

Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kondisi suku bunga tinggi justru mengurangi daya tarik logam mulia tersebut. Hal ini karena investor cenderung beralih ke aset yang memberikan imbal hasil lebih tinggi.

Ketidakpastian geopolitik juga memperburuk sentimen pasar. Iran dilaporkan menyita dua kapal di Selat Hormuz, memperketat kontrol atas jalur pelayaran strategis tersebut setelah Presiden AS Donald Trump menghentikan serangan militer tanpa kejelasan kelanjutan perundingan damai.

Di saat yang sama, AS tetap mempertahankan blokade angkatan laut terhadap perdagangan Iran. Ketua parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Baqer Qalibaf, menyatakan bahwa gencatan senjata penuh hanya masuk akal jika blokade tersebut dicabut.

Waterer menambahkan, investor khawatir situasi “gencatan senjata plus blokade” dapat berlangsung lama, sehingga mengubah lonjakan inflasi jangka pendek menjadi tekanan inflasi jangka panjang yang merugikan emas dari sisi imbal hasil.

Baca Juga: Mobil Terbang Xpeng Mulai Produksi Massal Tahun 2027, Minat Beli?

The Fed Diperkirakan Tahan Suku Bunga Lebih Lama

Survei Reuters terhadap para ekonom menunjukkan bahwa Federal Reserve kemungkinan akan menunda penurunan suku bunga setidaknya selama enam bulan ke depan. Lonjakan harga energi akibat konflik dinilai kembali memicu tekanan inflasi yang sudah tinggi.

Pelaku pasar kini memperkirakan peluang penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember hanya sekitar 23%, turun dari 28% pada pekan sebelumnya. Sebelum konflik, pasar sempat memperkirakan akan ada dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini.

Tidak hanya emas, logam mulia lainnya juga mengalami penurunan. Harga perak spot turun 1,4% menjadi US$76,64 per ons, platinum melemah 1,3% ke US$2.048,25, dan paladium turun 1% ke level US$1.529,25 per ons.