KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas terus tertekan menjelang keputusan lebih lanjut suku bunga Federal Reserve di 20 September 2023. Emas ditinggalkan investor yang lebih memilih dolar dan obligasi Amerika Serikat (AS). Pengamat komoditas Lukman Leong mengatakan, emas tertekan oleh penguatan dolar dan naiknya imbal hasil obligasi AS. Investor mengantisipasi sikap hawkish dari pejabat The Fed yang akan memberikan pernyataan di pekan ini. "Walau hampir dipastikan apabila the Fed akan mempertahankan suku bunga, namun The Fed diperkirakan akan bernada hawkish dalam konteks upaya mereka melawan inflasi," ujar Lukman kepada Kontan.co.id, Kamis (7/9).
Kenaikan harga minyak akhir-akhir ini, Lukman menambahkan, turut memicu kekhawatiran inflasi yang akan kembali meningkat. Minyak dunia saat ini telah melonjak ke level tertinggi dalam setahun terakhir. Baca Juga: Harga Emas Alami Koreksi Beruntun Akibat Dolar dan Yield Obligasi AS Terbang Tinggi Menurut Lukman, harga emas sepekan ini diperkirakan masih akan tertekan, kemungkinan hingga pertemuan The Fed dalam FOMC tanggal 20 September. Emas berpotensi koreksi hingga US$ 1.900 per troi ons, dan terbuka juga peluang menuju US$ 1.850 per troi ons. Founder Traderindo.com Wahyu Tribowo Laksono melihat, kenaikan dolar AS dan imbal hasil obligasi AS telah mengikis harga emas. Serangkaian data ekonomi AS mengindikasikan bahwa suku bunga yang saat ini berada di level tinggi akan dipertahankan lebih lama. Penguatan nilai tukar dolar AS membuat emas lebih mahal bagi investor di luar AS. Sementara imbal hasil yang lebih tinggi mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil. Menurut Wahyu, secara fundamental belum ada katalis yang bisa mengangkat harga emas dalam waktu dekat. Prospek lebih lanjut harga logam mulia akan bergantung pada keputusan FOMC di bulan September mendatang. Baca Juga: Data PMI AS Naik, Harga Emas Spot Berpotensi Turun