Harga Emas Tertekan, Pasar Menanti Data Tenaga Kerja AS dan Arah The Fed



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas bergerak melemah pada perdagangan Selasa (1/9/2026) seiring investor mencermati perkembangan ketegangan di Timur Tengah dan menunggu sejumlah data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis pekan ini.

Data ekonomi tersebut menjadi perhatian pasar karena berpotensi memberikan petunjuk mengenai kondisi pasar tenaga kerja AS sekaligus memengaruhi ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Mengutip Reuters, harga emas spot turun 0,3% menjadi US$4.437,10 per ons pada pukul 02.35 GMT (9:35 WIB). Pada perdagangan sebelumnya, harga emas sempat menyentuh level terendah sejak 19 Agustus.


Sementara itu, kontrak berjangka emas AS naik tipis 0,1% menjadi US$4.485,30 per ons.

Baca Juga: Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Masih Tertekan, Tanker Saudi Dihentikan Iran

Sejumlah data penting dari AS akan menjadi perhatian investor sepanjang pekan ini, termasuk data lowongan pekerjaan, laporan ketenagakerjaan ADP, serta data nonfarm payrolls.

Data-data tersebut akan dicermati untuk mengetahui kesehatan pasar tenaga kerja AS dan memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed selanjutnya.

Emas Tertekan Pernyataan The Fed

Harga emas sebelumnya sempat mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan pada pekan lalu. Namun, harga logam mulia tersebut kemudian anjlok lebih dari 3% pada Jumat setelah Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan pernyataan mengenai prospek kebijakan moneter.

Warsh mengatakan The Fed akan "masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan" apabila para pembuat kebijakan belum memperoleh keyakinan yang dibutuhkan bahwa inflasi sedang bergerak turun menuju target 2%.

Pernyataan tersebut dinilai memberikan tekanan terhadap harga emas karena membuka ruang bagi kebijakan moneter yang lebih ketat.

Analis pasar IG Tony Sycamore mengatakan harga emas tertekan oleh pernyataan hawkish Warsh dalam simposium Jackson Hole serta meningkatnya ketegangan baru di Selat Hormuz.

"Pidato hawkish Ketua The Fed Warsh di Jackson Hole, ditambah dengan ketegangan baru di Selat Hormuz yang membawa kenaikan harga minyak dan meningkatkan ekspektasi inflasi," kata Sycamore.

Baca Juga: Trump Minta Apple Ubah Nama Lake Ontario Jadi Lake America

Menurut dia, kenaikan suku bunga sebanyak satu kali belum tentu memberikan perubahan besar terhadap prospek emas. Namun, situasinya dapat berbeda jika The Fed menaikkan suku bunga beberapa kali.

"Satu kali kenaikan suku bunga secara terpisah seharusnya tidak menjadi pengubah permainan bagi emas. Dua atau tiga kali kenaikan mungkin akan berbeda," tambahnya.

Pasar Perkirakan Suku Bunga AS Naik

Pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada September mencapai 66%. Sementara itu, probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 89%, berdasarkan CME FedWatch Tool.

Suku bunga menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi pergerakan harga emas. Meskipun emas kerap dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya memberikan tekanan terhadap emas.

Pasalnya, suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan daya tarik aset-aset yang memberikan imbal hasil, sehingga mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan pendapatan bunga.

Presiden AS Donald Trump turut memberikan komentar mengenai posisi Warsh. Trump mengatakan dirinya sangat menghormati Warsh dan meyakini bahwa Warsh akan mengambil keputusan sesuai dengan kewenangannya terkait kebijakan suku bunga.

"Saya sangat menghormati Warsh dan dia akan melakukan apa yang harus dia lakukan," ujar Trump kepada wartawan di Ruang Oval.

Ketegangan Iran dan Selat Hormuz Jadi Perhatian

Selain kebijakan The Fed, perkembangan geopolitik di Timur Tengah juga menjadi perhatian pasar komoditas.

Trump pada Senin (31/8/2026) mengancam akan melakukan serangan lebih lanjut terhadap Iran setelah terjadi pertukaran serangan langsung pertama dalam satu bulan.

Perkembangan tersebut meningkatkan ketegangan dalam konflik yang sebelumnya mulai bergeser menjadi konfrontasi ekonomi.

Baca Juga: Harga Emas Bergerak Datar Hari Ini (1/9), Investor Menanti Data Tenaga Kerja AS

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik tersebut, harga minyak naik untuk sesi perdagangan kedua berturut-turut.

Kenaikan harga minyak berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap ekspektasi inflasi global. Kondisi tersebut menjadi faktor penting yang harus diperhitungkan investor dalam memperkirakan kebijakan moneter bank sentral AS.

Harga Perak dan Platinum Ikut Bergerak

Sementara itu, pergerakan harga logam mulia lainnya cenderung bervariasi.

Harga perak spot naik 0,3% menjadi US$66,34 per ons. Harga platinum juga meningkat tipis 0,1% menjadi US$1.793,03 per ons.

Adapun harga palladium tidak mengalami perubahan dan bertahan di level US$1.356,75 per ons.

Dengan demikian, fokus pasar emas pada awal September 2026 tidak hanya tertuju pada perkembangan geopolitik, tetapi juga pada serangkaian data tenaga kerja AS yang dapat menentukan ekspektasi terhadap langkah The Fed berikutnya.