Harga Emas Tertekan, Prospek Pergerakan Masih Bearish



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas spot masih bergerak dalam tekanan pada perdagangan Selasa (15/9). Selain sentimen suku bunga The Federal Reserve (The Fed), pasar juga mencermati kenaikan harga minyak, dolar AS, dan imbal hasil US Treasury.

Melansir data Bloomberg, XAUUSD pada Selasa (15/9) pukul 14.45 WIB berada di US$ 4.284,57 per ons troi, turun 0,35% secara harian.

Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan, tekanan bearish masih terlihat pada pergerakan emas di timeframe harian. Harga XAUUSD juga belum mampu menembus dan bertahan di atas resistance US$ 4.355.


"Selama level tersebut belum berhasil dilewati, peluang penurunan harga emas masih terbuka," ujar Geraldo dalam keterangannya, Selasa (15/9/2026).

Baca Juga: Harga Emas Melanjutkan Koreksi pada Selasa (15/9) Pagi

Menurut dia, kegagalan emas menembus level US$ 4.355 dapat membuat tekanan jual kembali berlanjut. Sementara itu, jika mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, tekanan bearish mulai berkurang dan peluang rebound terbuka.

Dalam skenario pelemahan, Geraldo melihat area US$ 4.223 sebagai support berikutnya. Level ini berada di sekitar Order Block dan Unfilled Order sehingga menjadi area yang perlu dicermati jika koreksi berlanjut.

"Jika tekanan jual berlanjut, harga emas berpotensi bergerak menuju support berikutnya di level 4.223," katanya.

Pergerakan di sekitar support tersebut akan menjadi penentu berikutnya. Emas masih berpeluang memantul jika mampu bertahan, sedangkan penembusan US$ 4.223 dapat membuka ruang koreksi lebih lanjut.

Dari sisi fundamental, kenaikan harga minyak turut menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko inflasi di Amerika Serikat. Kondisi ini berpotensi membuat The Fed lebih berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneternya.

Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi kemudian dapat menopang dolar AS dan yield US Treasury. Keduanya menjadi sentimen yang kurang menguntungkan bagi emas karena meningkatkan opportunity cost dalam memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Meski begitu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor yang bisa menahan pelemahan emas. Konflik yang kembali memanas berpotensi mendorong permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven.

"Penguatan dolar dan kenaikan Treasury yield dapat memperbesar tekanan terhadap emas, sementara pelemahan USD atau meningkatnya ketegangan geopolitik dapat memberikan ruang bagi XAUUSD untuk melakukan rebound," jelas Geraldo.

Dengan sentimen yang masih bercampur, arah emas dalam jangka pendek akan banyak dipengaruhi pergerakan dolar AS, yield, ekspektasi suku bunga The Fed, dan perkembangan konflik di Timur Tengah. Selama XAUUSD belum kembali di atas US$ 4.355, risiko pelemahan menuju area US$ 4.223 masih terbuka.

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp 10.000 Jadi Rp 2.592.000 per Gram, Selasa (15/9)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News