Harga Emas Tertekan Yield AS Tembus 5%, Ini Proyeksi hingga Akhir 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga emas kembali menghadapi tekanan di tengah menguatnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS). Yield US Treasury 10 tahun yang menembus level 5% serta tingginya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed membuat daya tarik emas sebagai aset tanpa imbal hasil berkurang.

Berdasarkan data Trading Economics, harga emas spot pada Selasa (15/9/2026) pukul 18.00 WIB berada di US$ 4.280 per ons troi, turun 0,42% secara harian. Dalam sepekan, harga emas melemah 1,49% dan turun 2,83% dalam sebulan.

Di pasar domestik, harga emas Antam juga masih berada di level tinggi. Melansir laman Logam Mulia, harga emas Antam 1 gram berada di Rp 2.592.000 atau Rp 2.598.480 setelah PPh 0,25%.


Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan kenaikan yield dan ekspektasi kenaikan suku bunga masih menjadi tekanan bagi emas dalam jangka pendek.

“Yield US Treasury 10 tahun yang telah menembus 5% dan probabilitas kenaikan Fed rate sekitar 92% memang berpotensi memberikan tekanan pada emas karena meningkatkan opportunity cost memegang aset tanpa yield,” ujar Lukman kepada Kontan, Selasa (15/9/2026).

Baca Juga: Ini Alasan OJK dan BEI Buka Implementasi Short Selling Penuh di Oktober 2026

Meski menghadapi tekanan dalam jangka pendek, prospek emas untuk periode lebih panjang dinilai masih cukup positif. Lukman menyarankan investor tidak melakukan pembelian secara sekaligus, terutama ketika harga masih berada dalam fase koreksi.

“Untuk saat ini, saya sarankan tidak mengejar harga dan menunggu koreksi. Namun, bagi investor jangka panjang, koreksi dapat dimanfaatkan untuk akumulasi secara bertahap,” katanya.

Pandangan serupa disampaikan Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono. Menurut dia, kenaikan yield US Treasury di atas 5% menjadi tekanan taktis bagi harga emas.

Apabila yield obligasi AS dan dolar AS bertahan di level tinggi, harga emas berpotensi melanjutkan koreksi hingga kisaran US$ 4.100-US$ 4.000 per ons troi.

“Yield di atas 5% adalah pukulan taktis terkuat bagi emas saat ini. Investor bisa memilih instrumen dengan imbal hasil di atas 5%, sehingga daya tarik emas berkurang,” ujar Wahyu.

Untuk investor yang memilih emas fisik sebagai instrumen investasi jangka panjang, Wahyu menyarankan penerapan strategi dollar cost averaging (DCA). Strategi tersebut memungkinkan investor melakukan pembelian secara bertahap dan tidak menghabiskan seluruh dana investasi dalam satu waktu.

“Untuk fisik atau Antam jangka panjang, saya sarankan DCA. Bisa mulai 30%-40% dari alokasi sekarang dan sisakan likuiditas untuk koreksi berikutnya,” katanya.

Baca Juga: Rupiah Tertekan Jelang FOMC, Analis Waspadai Risiko Tembus Rp 18.000

Proyeksi harga emas akhir 2026

Meskipun harga emas tengah terkoreksi, kedua analis masih melihat peluang kenaikan hingga penghujung 2026.

Lukman memproyeksikan harga emas spot dapat berada di kisaran US$ 4.700-US$ 4.900 per ons troi pada akhir 2026. Sementara itu, Wahyu memperkirakan emas berpeluang kembali ke level US$ 4.500-US$ 4.800 dan bahkan berpotensi mencapai US$ 5.000 per ons troi.

Untuk harga emas Antam, Lukman memperkirakan harga dapat mencapai Rp 2,8 juta-Rp 3 juta per gram pada akhir 2026. Adapun Wahyu melihat peluang harga berada di kisaran Rp 2,55 juta-Rp 2,7 juta per gram dan berpotensi mencapai Rp 3 juta per gram.

Pergerakan harga emas Antam juga tidak hanya dipengaruhi harga emas dunia. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta kondisi pasar domestik turut menjadi faktor penting yang dapat menyebabkan pergerakan emas Antam berbeda dengan harga emas spot global.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News