Harga Emas Tertekan Yield US Treasury, Intip Prospek Rebound Jangka Pendek



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas di pasar spot berupaya bangkit dan melakukan koreksi naik setelah sempat tertekan hebat akibat lonjakan imbal hasil (yield) US Treasury dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Trading Economics pada perdagangan Selasa (29/9/2026) pukul 15.06 WIB, harga emas spot menguat 0,59% ke level US$ 4.139,12 per ons troi.

Meski bergerak menguat harian, kinerja logam mulia masih terkoreksi 5,16% dalam sepekan terakhir dan melemah 6,80% dalam sebulan.


Sebelumnya, emas turun tajam hingga menyentuh US$ 4.111 per ons troi pada awal pekan, yang merupakan posisi terendahnya sejak awal Agustus.

Baca Juga: Pangkas Pelemahan, Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.981 Per Dolar AS Hari Ini (29/9)

Tekanan tersebut dipicu oleh melambungnya yield Treasury AS tenor 10 tahun ke level puncak sejak Juni 2007, seiring dengan makin kuatnya ekspektasi pasar akan kenaikan suku bunga acuan oleh The Federal Reserve (The Fed).

Langkah ketat The Fed menjadi beban utama bagi aset tanpa imbal hasil seperti emas.

Saat yield obligasi pemerintah AS meroket, opportunity cost untuk mengapit emas menjadi makin tinggi. Di saat bersamaan, pasar mengalkulasikan peluang hingga 70% bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada Oktober mendatang, yang kian memupuk daya tarik mata uang dolar AS.

Kondisi pasar juga kian rumit akibat tingginya harga minyak mentah di tengah memanasnya tensi geopolitik AS-Iran.

Kenaikan harga energi tersebut memicu kekhawatiran inflasi baru yang berpotensi memaksa The Fed untuk memperpanjang era suku bunga tinggi lebih lama.

Kendati demikian, secara teknikal pergerakan harga emas pada timeframe H1 mulai memancarkan sinyal pemulihan setelah tertahan di area krusial.

Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit menilai level US$ 4.111 menjadi benteng pertahanan kunci bagi pergerakan emas dalam jangka pendek.

"Selama support tersebut mampu menahan tekanan jual, XAUUSD berpotensi melakukan koreksi kenaikan menuju resistance terdekat pada kisaran US$ 4.160 hingga US$ 4.202," ungkap Geraldo dalam keterangannya, Selasa (29/9/2026).

Baca Juga: Saham GOTO di Bawah Gocap, Peluang Rebound Terbuka

Secara grafis, terbentuknya pola Bullish Engulfing pada timeframe H1 mengindikasikan masuknya minat beli baru di pasar.

Meski demikian, potensi penguatan ini diperkirakan masih bersifat sementara atau sebatas koreksi teknikal dari tren pelemahan utamanya.

Ke depan, ruang penguatan emas akan sangat bergantung pada dinamika yield obligasi AS, pergerakan indeks dolar, serta perkembangan eskalasi di Timur Tengah yang sewaktu-waktu dapat memicu permintaan aset safe haven.

Geraldo mengingatkan agar para pelaku pasar tetap mewaspadai area krusial sebelum mengambil keputusan investasi.

"Pergerakan harga di sekitar resistance 4.160–4.202 akan menjadi area penting untuk melihat apakah rebound dapat berlanjut atau kembali menghadapi tekanan jual," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News