KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas mengalami koreksi tajam dalam beberapa hari terakhir. Walau begitu, saham-saham emiten produsen emas tetap memiliki daya tarik bagi investor. Mengutip trading economics, harga emas dunia anjlok 3,45% ke level US$ 4.717,85 per ons troi pada Senin (2/2) pukul 17.18 WIB. Harga emas telah terkoreksi 15,18% dari posisi tertingginya di level US$ 5.562,3 per ons troi yang dicapai pada 29 Januari lalu. Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su mengatakan, penurunan harga emas yang signifikan ini disebabkan oleh aksi profit taking oleh sejumlah investor setelah kenaikan tajam komoditas tersebut yang mencapai lebih dari 25% sejak awal 2026. "Penurunan harga emas juga diperparah oleh kebutuhan tambahan untuk margin di kontrak futures yang memaksa para pelaku pasar untuk menambah jaminan atau menutup posisi," ujar dia, Senin (2/2). Baca Juga: Ini Hasil Pertemuan SRO dengan MSCI, Ada Tiga Poin yang Jadi Concern Namun, secara jangka panjang, selama Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terus menciptakan situasi geopolitik yang penuh ketidakpastian seperti wacana menginvasi Iran, konflik AS dengan NATO, dan lain-lain, maka emas masih memiliki kesempatan untuk tumbuh sebagai aset safe haven. Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai, secara fundamental harga emas masih berada di level yang profitabel bagi emiten produsen emas lantaran biaya produksi rata-rata global berada jauh di bawah kisaran harga saat ini. Alhasil, koreksi harga emas ini lebih mencerminkan penyesuaian jangka pendek daripada berakhirnya tren struktural. "Dalam jangka dekat, saham emiten emas memang berpotensi tetap volatil, tetapi tekanan tersebut lebih bersifat teknikal dibanding perubahan fundamental," kata dia, Senin (2/2). Sebagai catatan, bersamaan dengan penurunan harga emas, saham-saham emiten emas juga mengalami koreksi harga pada Senin (2/2). Misalnya, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang harga sahamnya jatuh 9,50% ke level Rp 3.810 per saham. Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) juga anjlok hingga menyentuh auto reject bawah (ARB) masing-masing 14,95%, 14,81%, dan 14,93% ke level Rp 2.730 per saham, Rp 920 per saham, dan Rp 1.510 per saham. Abida menambahkan, jika harga emas melanjutkan koreksi pada 2026, kinerja emiten emas sebenarnya masih relatif terjaga karena margin tetap positif pada level harga saat ini. Walau begitu, emiten tetap perlu memperkuat efisiensi biaya, optimalisasi produksi ber-grade tinggi, serta menjaga belanja modal tetap disiplin. Dari situ, Abida memperkirakan, emiten dengan struktur biaya rendah dan cadangan besar berpeluang tetap unggul dari sisi kinerja operasional dan keuangan, apalagi jika mereka memiliki diversifikasi pendapatan dan neraca kuat. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mengatakan, kalau harga emas lanjut koreksi, dampaknya ke emiten emas tidak otomatis jelek, namun cara kerja pasar akan berubah. Dalam hal ini, ketika harga emas naik kencang, pasar biasanya menghargai saham emiten emas dengan ekspektasi tinggi. Begitu emas koreksi, saham emas cenderung ikut volatil karena ekspektasi tersebut dinormalisasi. "Emiten yang relatif lebih 'tahan' biasanya emiten yang punya biaya produksi kompetitif, produksi stabil, dan neraca lebih sehat. Jadi walau harga jual turun, margin masih bisa dijaga," terang dia, Senin (2/2). Bagi investor, kondisi seperti ini semestinya menjadi momen wait and see untuk mengakumulasi kembali saham-saham emas saat posisi mulai menguat kembali. Namun, bukan berarti investor harus beli saham emas sekarang, melainkan tunggu dulu sampai momentum penguatannya kembali. "Kuncinya saat ini jangan kejar beli saat panic sell, lebih aman cicil bertahap dan pakai patokan yang jelas. Misalnya, tunggu emas stabil, volume jual di saham mulai mengecil, dan harga saham mulai membentuk base," jelas Ekky. Senada, Abida menyebut, koreksi harga emas berpotensi menjadi momentum akumulasi karena valuasi saham emiten emas cenderung kembali ke level yang lebih rasional setelah reli di periode sebelumnya. Artinya, pelemahan harga emas dapat mendorong normalisasi valuasi tanpa merusak prospek jangka menengah, terutama jika harga komoditas tetap berada di atas biaya produksi industri. Ada beberapa saham emiten emas yang layak dipertimbangkan investor menurut Abida. Di antaranya adalah ANTM, ARCI, dan BRMS dengan target harga masing-masing di level Rp 4.100 per saham, Rp2.000 per saham, dan Rp 11.080 per saham. Harry turut merekomendasikan beli saham ANTM, BRMS, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dengan target harga masing-masing di level Rp 4.600 per saham, Rp 1.300 per saham, dan Rp 10.000 per saham.
Harga Emas Terus Merosot, Begini Nasib Emiten Produsen Emas
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas mengalami koreksi tajam dalam beberapa hari terakhir. Walau begitu, saham-saham emiten produsen emas tetap memiliki daya tarik bagi investor. Mengutip trading economics, harga emas dunia anjlok 3,45% ke level US$ 4.717,85 per ons troi pada Senin (2/2) pukul 17.18 WIB. Harga emas telah terkoreksi 15,18% dari posisi tertingginya di level US$ 5.562,3 per ons troi yang dicapai pada 29 Januari lalu. Managing Director Research dan Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su mengatakan, penurunan harga emas yang signifikan ini disebabkan oleh aksi profit taking oleh sejumlah investor setelah kenaikan tajam komoditas tersebut yang mencapai lebih dari 25% sejak awal 2026. "Penurunan harga emas juga diperparah oleh kebutuhan tambahan untuk margin di kontrak futures yang memaksa para pelaku pasar untuk menambah jaminan atau menutup posisi," ujar dia, Senin (2/2). Baca Juga: Ini Hasil Pertemuan SRO dengan MSCI, Ada Tiga Poin yang Jadi Concern Namun, secara jangka panjang, selama Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terus menciptakan situasi geopolitik yang penuh ketidakpastian seperti wacana menginvasi Iran, konflik AS dengan NATO, dan lain-lain, maka emas masih memiliki kesempatan untuk tumbuh sebagai aset safe haven. Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai, secara fundamental harga emas masih berada di level yang profitabel bagi emiten produsen emas lantaran biaya produksi rata-rata global berada jauh di bawah kisaran harga saat ini. Alhasil, koreksi harga emas ini lebih mencerminkan penyesuaian jangka pendek daripada berakhirnya tren struktural. "Dalam jangka dekat, saham emiten emas memang berpotensi tetap volatil, tetapi tekanan tersebut lebih bersifat teknikal dibanding perubahan fundamental," kata dia, Senin (2/2). Sebagai catatan, bersamaan dengan penurunan harga emas, saham-saham emiten emas juga mengalami koreksi harga pada Senin (2/2). Misalnya, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang harga sahamnya jatuh 9,50% ke level Rp 3.810 per saham. Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) juga anjlok hingga menyentuh auto reject bawah (ARB) masing-masing 14,95%, 14,81%, dan 14,93% ke level Rp 2.730 per saham, Rp 920 per saham, dan Rp 1.510 per saham. Abida menambahkan, jika harga emas melanjutkan koreksi pada 2026, kinerja emiten emas sebenarnya masih relatif terjaga karena margin tetap positif pada level harga saat ini. Walau begitu, emiten tetap perlu memperkuat efisiensi biaya, optimalisasi produksi ber-grade tinggi, serta menjaga belanja modal tetap disiplin. Dari situ, Abida memperkirakan, emiten dengan struktur biaya rendah dan cadangan besar berpeluang tetap unggul dari sisi kinerja operasional dan keuangan, apalagi jika mereka memiliki diversifikasi pendapatan dan neraca kuat. Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mengatakan, kalau harga emas lanjut koreksi, dampaknya ke emiten emas tidak otomatis jelek, namun cara kerja pasar akan berubah. Dalam hal ini, ketika harga emas naik kencang, pasar biasanya menghargai saham emiten emas dengan ekspektasi tinggi. Begitu emas koreksi, saham emas cenderung ikut volatil karena ekspektasi tersebut dinormalisasi. "Emiten yang relatif lebih 'tahan' biasanya emiten yang punya biaya produksi kompetitif, produksi stabil, dan neraca lebih sehat. Jadi walau harga jual turun, margin masih bisa dijaga," terang dia, Senin (2/2). Bagi investor, kondisi seperti ini semestinya menjadi momen wait and see untuk mengakumulasi kembali saham-saham emas saat posisi mulai menguat kembali. Namun, bukan berarti investor harus beli saham emas sekarang, melainkan tunggu dulu sampai momentum penguatannya kembali. "Kuncinya saat ini jangan kejar beli saat panic sell, lebih aman cicil bertahap dan pakai patokan yang jelas. Misalnya, tunggu emas stabil, volume jual di saham mulai mengecil, dan harga saham mulai membentuk base," jelas Ekky. Senada, Abida menyebut, koreksi harga emas berpotensi menjadi momentum akumulasi karena valuasi saham emiten emas cenderung kembali ke level yang lebih rasional setelah reli di periode sebelumnya. Artinya, pelemahan harga emas dapat mendorong normalisasi valuasi tanpa merusak prospek jangka menengah, terutama jika harga komoditas tetap berada di atas biaya produksi industri. Ada beberapa saham emiten emas yang layak dipertimbangkan investor menurut Abida. Di antaranya adalah ANTM, ARCI, dan BRMS dengan target harga masing-masing di level Rp 4.100 per saham, Rp2.000 per saham, dan Rp 11.080 per saham. Harry turut merekomendasikan beli saham ANTM, BRMS, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dengan target harga masing-masing di level Rp 4.600 per saham, Rp 1.300 per saham, dan Rp 10.000 per saham.