Harga Emas Turun dari Puncaknya, Tertekan Sikap Hawkish The Fed



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Di tengah tekanan dari kebijakan suku bunga tinggi Amerika Serikat (AS), harga emas di pasar spot maupun emas batangan bersertifikat di Logam Mulia PT Aneka Tambang (ANTM) terkoreksi cukup dalam setelah sempat mencetak rekor tertinggi pada tahun ini.

Melansir Trading Economic pada Senin (22/6/2026) pukul 18.20 WIB, harga emas di pasar spot bertengger di level US$ 4.202,99 per troi ons atau melemah 8,00% dalam sebulan terakhir dan turun 2,98% YtD. Padahal, emas spot sempat mencapai all-time-high pada Januari 2026, yakni US$ 5.608,35 per ons troi.

Sementara itu, harga emas batangan Antam dihargai Rp 2.668.000 per gram, turun 3,78% dibandingkan harga satu bulan lalu yang berada di Rp 2.773.000 per gram. Sama halnya dengan emas spot, harga Antam juga mencapai ATH pada Januari lalu yakni di level Rp 3.168.000 per gram.


Baca Juga: Harga Emas Lesu Akibat Suku Bunga Tinggi, Simak Prospeknya hingga Akhir Tahun

Analis PT Finex Bisnis Solusi Future Brahmantya Himawan mengatakan, koreksi harga emas yang terjadi saat ini sebab kombinasi beberapa faktor. Dari global, The Fed masih mempertahankan sikap yang cenderung hawkish dengan mempertahankan tren suku bunga higher for longer, sehingga dolar AS dan yield obligasi AS kembali menarik.

Selain itu, pasar sempat merespons positif adanya upaya perdamaian AS-Iran yang mengurangi permintaan safe haven terhadap emas. Namun belakangan, pernyataan Donald Trump terkait Iran dan kembali munculnya ketegangan di Selat Hormuz membuat minat investor terhadap dolar AS meningkat.

“Dalam kondisi seperti ini, USD masih dipandang sebagai petrodollar. Selama risiko pasokan energi dan geopolitik masih tinggi, sebagian investor cenderung memilih memegang dolar terlebih dahulu sehingga kenaikan emas menjadi lebih terbatas,” ujar Brahmantya saat dihubungi Kontan, Senin (22/6/2026).

Sementara itu, Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, mengatakan penurunan harga emas Antam tidak hanya dipengaruhi oleh pergerakan harga emas global. Ariston bilang, penguatan rupiah terhadap dolar AS juga turut menekan harga emas domestik yang dihitung dalam mata uang rupiah.

Kendati demikian, Ariston masih melihat koreksi harga saat ini merupakan peluang untuk mengoleksi emas untuk tujuan investasi jangka panjang dua-tiga tahun ke depan.

“Karena situasi konflik yang terjadi belakangan ini bakal mungkin terjadi lagi di tahun-tahun yang akan datang. Pelemahan rupiah pun mungkin masih bisa terjadi lagi di tahun-tahun mendatang. Sehingga harga emas masih berpotensi menguat lagi ke depannya,” kata Ariston.

Tak hanya dari sentimen suku bunga The Fed, Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures Nanang Wahyudin bilang sentimen lain datang dari ekspektasi inflasi global yang mulai melandai. Ini juga mendorong investor melakukan aksi ambil untung (profit taking) terhadap aset emas.

Baca Juga: Harga Emas Turun, Masih Layak Dibeli? Ini Prospek Emas hingga Akhir 2026

Strategi Investasi

Dari sisi instrumen, Nanang melihat, emas fisik seperti Antam masih cocok bagi investor konservatif yang berorientasi pada perlindungan nilai kekayaan (wealth preservation) dalam jangka panjang, yakni lebih dari tiga hingga lima tahun.

Hanya saja, ia mengingatkan, emas fisik kurang ideal untuk kebutuhan investasi jangka pendek karena memiliki spread atau selisih harga jual dan beli yang cukup lebar.

“Namun, (investasi di emas fisik) kurang cocok untuk jangka pendek karena spread atau selisih harga cukup lebar, yakni saat ini di kisaran Rp 267.000 per gram,” kata Nanang.

Sebaliknya, emas digital maupun emas spot dinilai lebih prospektif untuk investor yang memiliki horizon investasi jangka pendek hingga menengah. Instrumen tersebut menawarkan likuiditas yang lebih tinggi, biaya transaksi yang lebih rendah, serta spread yang relatif tipis dibandingkan emas fisik.

Baca Juga: Harga Emas Bangkit Setelah Sempat Tertekan, Pasar Cermati Kemajuan Dialog AS-Iran

Terkait strategi investasi, Nanang menyarankan investor yang belum memiliki emas untuk memanfaatkan koreksi harga saat ini dengan melakukan pembelian secara bertahap menggunakan metode dollar cost averaging (DCA).

Bagi investor yang sudah memiliki emas dalam portofolionya, Nanang merekomendasikan untuk tetap mempertahankan kepemilikan atau hold. Investor juga dapat menambah porsi secara bertahap (buy on weakness) saat harga mengalami pelemahan guna menurunkan rata-rata harga beli.

Lebih lanjut, Ariston memperkirakan dalam jangka pendek harga emas spot berpeluang melanjutkan koreksi apabila ekspektasi kenaikan suku bunga AS kembali menguat. Tapi, saat ini harga emas sedang mencoba rebound setelah muncul kabar positif terkait perdamaian antara AS dan Iran.

Dalam skenario suku bunga AS dipertahankan tinggi atau bahkan naik lebih lanjut di sisa tahun ini, harga emas spot berpotensi kembali bergerak ke US$ 4.000 per ons troi. Sejalan dengan itu, harga emas Antam juga berpotensi turun ke kisaran Rp 2,5 juta per gram.

Nanang berpandangan tren harga emas masih berada dalam tren bullish dan berpeluang menguji level US$ 4.500 hingga US$ 4.700 per ons troi pada akhir 2026. Sementara itu, harga emas Antam diproyeksikan dapat kembali menguat ke kisaran Rp 2,85 juta hingga Rp 3 juta per gram. 

Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Tetap Stagnan di Level Rp 2.668.000 Per Gram, Senin (22/6)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News