Harga Emas Turun di Tengah Inflasi AS, Cermati Prospek dan Rekomendasi Analis



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Koreksi harga emas dunia berpotensi menekan kinerja keuangan emiten tambang emas jika penurunan harga jual tidak diimbangi peningkatan volume penjualan dan efisiensi biaya.

Meski demikian, prospek masing-masing emiten tetap bergantung pada biaya produksi, realisasi produksi, serta kemampuan menghasilkan arus kas.

Harga emas dunia terkoreksi selama tiga hari berturut-turut pada pertengahan Oktober 2026 setelah inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan memperkuat kekhawatiran bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama.


Inflasi AS mencapai 3,7% secara tahunan pada September 2026, sehingga ruang pelonggaran kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) berpotensi semakin terbatas.

Baca Juga: Harga Emas Turun, Dipicu Ketegangan AS-Iran dan Penguatan Dolar

Senior Technical Analyst M. Nafan Aji Gusta menilai koreksi tersebut belum mengubah prospek emas secara mendasar. Namun, harga emas diperkirakan masih bergejolak hingga akhir tahun seiring perkembangan inflasi AS dan arah kebijakan suku bunga.

"Kinerja emiten emas tetap ditentukan oleh kemampuan menjaga margin keuntungan dan arus kas operasional," ujar Nafan.

Suku bunga tinggi berpotensi menekan harga emas karena meningkatkan daya tarik aset berbunga dan memperkuat dolar AS. Meski demikian, ketidakpastian geopolitik, pembelian emas oleh bank sentral, dan kebutuhan diversifikasi portofolio dapat menopang permintaan emas sebagai aset lindung nilai.

Head Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata melihat peluang pemulihan harga emas masih terbuka.

Pada 15 Oktober 2026 sekitar pukul 13.33 WIB, harga emas berjangka naik 1,21% ke US$ 4.157 per ons troi. Penguatan tersebut didukung pelemahan indeks dolar AS sebesar 0,41% ke 102,13 dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sebesar 8,7 basis poin ke 5,102%.

Meski berpeluang pulih, Liza memperkirakan harga emas masih bergerak mendatar hingga akhir tahun. Level US$ 4.000 per ons troi menjadi batas penting yang perlu dicermati investor di tengah risiko kenaikan suku bunga yang belum sepenuhnya hilang.

Baca Juga: Harga Emas Turun Tertekan Dolar AS, Pasar Menanti Keputusan Suku Bunga The Fed

Bagi emiten tambang emas, perubahan harga jual dapat langsung memengaruhi pendapatan dan margin keuntungan.

Jika harga emas turun sementara biaya penambangan, pengolahan, energi, tenaga kerja, dan pemeliharaan tetap tinggi, EBITDA, laba bersih, serta arus kas operasional berisiko tertekan.

Besarnya dampak bergantung pada biaya produksi per ons, volume penjualan, kualitas cadangan tambang, dan struktur pendanaan perusahaan.

Emiten dengan biaya produksi kompetitif dan arus kas kuat relatif lebih mampu menghadapi gejolak harga. Sebaliknya, perusahaan yang sedang meningkatkan kapasitas produksi atau menanggung belanja modal dan beban pendanaan besar perlu mewaspadai tekanan terhadap profitabilitas.

Sebagai ilustrasi, penurunan harga jual sebesar US$ 100 per ons troi pada volume penjualan 100.000 ons berpotensi mengurangi pendapatan sekitar US$ 10 juta jika volume penjualan tetap.

Karena itu, investor perlu mencermati harga jual rata-rata sepanjang kuartal, bukan hanya pergerakan harga emas harian.

Dari sisi saham, Nafan menyebut ANTM, BRMS, EMAS, dan MDKA sebagai emiten yang dapat dicermati.

Namun, koreksi harga emas tidak serta-merta mengubah prospek jangka panjang seluruh emiten karena karakteristik bisnis dan kondisi keuangan masing-masing berbeda.

Baca Juga: Harga Emas Turun Tertekan Dolar AS dan Aksi Ambil Untung

ANTM memiliki bisnis emas dan komoditas lain, termasuk nikel, sehingga kinerjanya juga dipengaruhi kontribusi pendapatan serta margin dari segmen nonemas.

Sementara itu, prospek BRMS dan EMAS bergantung pada peningkatan produksi, pengendalian biaya, kebutuhan belanja modal, dan beban pendanaan.

Adapun MDKA memiliki eksposur terhadap emas, tembaga, dan mineral lain. Dengan demikian, kinerja perseroan turut ditentukan perkembangan bisnis nonemas dan kebutuhan pendanaan proyek-proyeknya.

Liza juga menyoroti ARCI yang mencatat produksi sekitar 60.000 ons pada semester I-2026, naik 12%. Namun, harga jual rata-rata sebesar US$ 4.596 per ons troi pada periode tersebut perlu menjadi perhatian apabila harga emas bertahan di level yang lebih rendah.

Baca Juga: Harga Emas Turun Senin (22/6) Pagi, Dipicu Ketegangan AS-Iran & Nada Hawhish The Fed

Dalam menilai prospek saham tambang emas, investor perlu membandingkan harga jual rata-rata dengan biaya produksi, mencermati pertumbuhan volume penjualan, serta mengevaluasi arus kas, kesehatan neraca, dan valuasi saham.

Faktor-faktor tersebut menjadi penentu seberapa besar emiten mampu mempertahankan keuntungan ketika harga emas berfluktuasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News