KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga emas turun pada Kamis (20/8/2026) karena investor melakukan aksi ambil untung setelah harga melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari dua bulan. Kenaikan sebelumnya dipicu oleh pengumuman tak terduga dari Departemen Keuangan AS mengenai dukungan likuiditas untuk obligasi berdurasi panjang, yang melemahkan dolar dan menurunkan imbal hasil (
yield) obligasi pemerintah AS. Mengutip
Reuters, harga emas spot turun 0,6% menjadi US$ 4.495,69 per ons pada pukul 03.31 GMT. Sebelumnya, harga sempat menyentuh US$ 4.525,79—level tertinggi sejak 2 Juni—setelah mencatat kenaikan lebih dari 4% pada hari Rabu.
Kontrak berjangka emas AS naik 0,2% menjadi US$ 4.553,30. Departemen Keuangan AS pada hari Rabu mengumumkan akan melipatgandakan skala operasi pembelian kembali (
buyback) untuk mendukung likuiditas surat utang dan obligasi berjangka waktu lebih panjang.
Baca Juga: Utang AS Tembus US$40 Triliun untuk Pertama Kalinya, Risiko Krisis Fiskal Menguat Langkah ini diambil setelah terjadi aksi jual besar-besaran di pasar obligasi, di mana investor menuntut imbal hasil lebih tinggi akibat meningkatnya risiko inflasi yang dipicu oleh perang AS-Israel melawan Iran. Nilai tukar dolar AS bergerak di dekat level terendah dalam tiga bulan. "Jelas terjadi lonjakan besar (pada harga emas), dan pasar kemungkinan akan mengalami fase konsolidasi setelah pergerakan signifikan seperti itu," ujar Ilya Spivak, kepala makro global di Tastylive. "Kisaran harga US$ 4.400 hingga US$ 4.500 telah berhasil ditembus. Jika harga mampu bertahan di atas kisaran ini, momentum kenaikan kemungkinan akan berlanjut." Sementara itu, total utang AS yang beredar melampaui angka US$ 40 triliun untuk pertama kalinya, memicu peringatan baru mengenai potensi krisis fiskal. "Meningkatnya kekhawatiran mengenai stabilitas keuangan pasar akibat aktivitas pinjaman dan utang, serta ketidakmampuan untuk memangkas belanja di sisi fiskal, memberikan sentimen sangat positif bagi emas," ujar Edward Meir, analis Marex.
Baca Juga: HDFC Bank India Akan Merilis Obligasi Dolar, Nilainya US$ 1 Miliar Kekhawatiran terhadap inflasi menguat dalam pertemuan Federal Reserve bulan lalu, di mana "beberapa" pembuat kebijakan menyatakan kesiapan untuk menaikkan suku bunga, sebagaimana terungkap dalam risalah rapat yang dirilis pada hari Rabu. Saat ini, para pelaku pasar memperhitungkan adanya peluang sebesar 67% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga dan peluang 33% untuk kenaikan suku bunga pada bulan September, menurut data CME FedWatch Tool. Meskipun emas umumnya dipandang sebagai sarana lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang lebih tinggi cenderung mengurangi daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil (yield) tersebut.