KONTAN.CO.ID - Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Rabu (13/5/2026), memperpanjang penurunan untuk hari kedua berturut-turut seiring meningkatnya kekhawatiran inflasi yang mengurangi harapan pasar terhadap pemangkasan suku bunga Amerika Serikat (AS). Investor juga mencermati perkembangan pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing.
Baca Juga: Minyak Brent Ditutup Turun 2% Rabu (13/5), Cemas Inflasi AS dan Suku Bunga Tinggi Mengutip
Reuters, harga emas spot turun 0,6% ke level US$ 4.686,35 per ons troi pada pukul 13.59 EDT. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS justru ditutup naik tipis 0,4% ke US$ 4.706,70 per ons troi. Tekanan terhadap harga emas muncul setelah data terbaru menunjukkan inflasi produsen AS meningkat lebih tinggi dari perkiraan pada April 2026 dan mencatat kenaikan terbesar sejak awal 2022. Kondisi tersebut memperkuat pandangan bahwa tekanan inflasi akibat perang Iran mulai menyebar lebih luas ke perekonomian AS. Vice President dan Senior Metals Strategist Zaner Metals Peter Grant mengatakan, inflasi yang masih tinggi memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama sehingga menekan harga emas.
Baca Juga: Beijing Kecewa Berat! Eropa Mau Batasi Investasi, China Ancam ‘Tutup Pintu’ “Inflasi tetap tinggi dan ekspektasi suku bunga tinggi untuk periode lebih panjang semakin menguat. Itu yang menekan emas dalam dua hari terakhir,” ujarnya. Secara tradisional, emas dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga cenderung mengurangi daya tarik logam mulia karena emas tidak memberikan imbal hasil. Data lain juga menunjukkan inflasi konsumen AS meningkat lebih lanjut pada April, dengan laju tahunan mencatat kenaikan terbesar dalam tiga tahun terakhir. Federal Reserve bulan lalu mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini hampir sepenuhnya menghapus ekspektasi pemangkasan suku bunga tahun ini.
Baca Juga: Perang Iran Bikin Trump Terjepit, Kini Minta Tolong China Di sisi geopolitik, Trump tiba di China untuk membahas sejumlah isu strategis, termasuk perdagangan dan hubungan ekonomi kedua negara di tengah perang Iran yang masih berlangsung. Sementara itu, India menaikkan tarif impor emas dan perak menjadi 15% dari sebelumnya 6% sebagai upaya menekan impor logam mulia dan menjaga cadangan devisa negara.
India merupakan konsumen logam mulia terbesar kedua di dunia setelah China.
Baca Juga: Era Powell Berakhir! Kevin Warsh Ambil Alih The Fed di Tengah Ancaman Inflasi Peter Grant menilai kenaikan tarif impor India dapat memicu kekhawatiran terhadap permintaan emas dalam jangka panjang. Di pasar logam mulia lainnya, harga perak spot naik 1,6% menjadi US$ 87,88 per ons troi setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Platinum menguat 1,6% ke US$ 2.159,58 per ons troi, level tertinggi sejak 12 Maret, sementara palladium naik 1,2% menjadi US$ 1.508,39 per ons troi.