KONTAN.CO.ID - Harga emas bertahan relatif stabil pada perdagangan Rabu (30/9/2026), tetapi masih berada di jalur penurunan bulanan. Investor mencermati data inflasi Amerika Serikat (AS) yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Mengutip
Reuters, harga emas di pasar spot berada di US$4.178,59 per ons troi pada 0037 GMT. Harga tersebut turun hampir 6% sepanjang September. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS naik 0,7% menjadi US$4.210,30 per ons troi.
Baca Juga: Korea Utara Ancam Balas Korea Selatan Usai Ledakan Ranjau di DMZ Tekanan terhadap harga emas datang dari ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi. Dalam kondisi suku bunga tinggi, aset yang memberikan imbal hasil cenderung lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil. Investor kini menunggu rilis indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditures/PCE) AS yang dijadwalkan pada Rabu waktu setempat. Data tersebut menjadi salah satu indikator inflasi yang menjadi perhatian The Fed dalam menentukan kebijakan moneternya. Selain data inflasi, pasar juga menantikan laporan ketenagakerjaan nonpertanian (nonfarm payrolls) AS yang dijadwalkan dirilis pada Jumat.
Baca Juga: China Peringatkan Uni Eropa, Siap Balas Jika Perdagangan Dibatasi Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams mengatakan bank sentral AS masih memiliki waktu untuk mencermati data ekonomi sebelum memutuskan kapan kembali menaikkan suku bunga. Ia juga menyebut kemungkinan akan ada satu kali kenaikan suku bunga lagi hingga akhir tahun. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 50% pada Oktober. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 92%. Ekspektasi tersebut menjadi perhatian pasar emas karena kenaikan suku bunga dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis imbal hasil sekaligus menekan permintaan terhadap emas. Di sisi lain, sentimen konsumen AS juga memburuk. Kepercayaan konsumen pada September merosot ke level terendah dalam hampir 12,5 tahun. Rumah tangga AS memperkirakan kondisi bisnis dan pasar tenaga kerja akan memburuk dalam enam bulan ke depan di tengah konflik Timur Tengah dan kenaikan suku bunga.
Baca Juga: Donald Trump Sebut Iran Akan Menyerah, tetapi Belum Tahu Kapan Pergerakan emas juga berlangsung di tengah perkembangan geopolitik. Qatar berharap diplomasi antara Iran dan AS dapat menghasilkan terobosan, meski Presiden AS Donald Trump membantah laporan bahwa dirinya bersedia melonggarkan sanksi dan mencairkan dana Iran yang dibekukan sebagai imbalan atas konsesi terkait program nuklir. Sementara itu, harga logam mulia lainnya juga bergerak beragam. Harga perak spot turun 0,2% menjadi US$61,33 per ons troi. Platinum naik 0,5% menjadi US$1.713,15, sedangkan palladium menguat 0,5% menjadi US$1.228,95 per ons troi. Ketiga logam tersebut juga masih berada di jalur penurunan sepanjang September.