Harga Energi Naik, Biaya Produksi Produsen Semen Tertekan pada 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri semen menghadapi tantangan peningkatan biaya produksi sepanjang 2026 seiring tingginya harga energi. Kenaikan harga batubara dan solar industri menjadi beban utama yang berpotensi menekan margin produsen semen di tengah kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian.

Salah satu perusahaan yang merasakan tekanan tersebut adalah PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT). Perseroan menyebut kenaikan harga batubara menjadi salah satu komponen biaya yang paling signifikan pada awal 2026. Di saat yang sama, kenaikan harga bahan bakar turut meningkatkan beban logistik dan distribusi.

Finance Director CMNT Ameesh Anand mengatakan, perseroan menghadapi tekanan kenaikan biaya energi yang bersifat sementara pada awal tahun. Kondisi tersebut terjadi di tengah ketidakpastian makroekonomi dan dinamika geopolitik global.


“Komponen biaya yang mengalami kenaikan paling signifikan terutama berasal dari biaya energi, khususnya harga batubara, yang mengalami kenaikan pada awal 2026,” ujar Ameesh kepada KONTAN, Rabu (2/9/2026).

Kenaikan biaya energi tersebut turut tercermin pada kinerja margin CMNT. Margin laba kotor konsolidasian perseroan tercatat sebesar 18,7% pada Semester I 2026, menurun dari 19,4% pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: Pertamina Revisi Naik Harga Pertamax Green 95 Jadi Rp 19.150 per Liter

Harga Batubara dan Solar Tekan Industri Semen

Tekanan kenaikan biaya energi tidak hanya dirasakan oleh CMNT. Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Lilik Unggul Raharjo mengatakan, kondisi tersebut terjadi secara umum di industri semen.

Selain kenaikan harga batubara dan solar industri, penguatan dolar AS juga menjadi faktor yang meningkatkan beban biaya produsen semen, terutama untuk barang-barang yang masih harus didatangkan dari luar negeri.

“Faktor yang paling besar adalah kenaikan harga energi, dalam hal ini harga batubara dan solar industri, di samping karena dolar yang menguat, harga barang impor menjadi naik,” ujar Lilik kepada KONTAN, baru-baru ini.

Lilik menjelaskan, produsen semen yang tidak memperoleh pasokan batubara melalui skema domestic market obligation (DMO) harus membeli batubara berdasarkan harga pasar. Kondisi tersebut membuat harga batu bara yang dibayarkan produsen dapat lebih tinggi hingga sekitar 39%.

Kenaikan harga batubara non-DMO tersebut dapat memberikan dampak sekitar 18% terhadap biaya produksi. Sementara itu, kenaikan harga solar industri memberikan tambahan tekanan sekitar 4% terhadap biaya produksi.

Kondisi ini menjadi tantangan bagi produsen semen karena kenaikan biaya produksi tidak serta-merta dapat diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga jual. Dengan demikian, peningkatan biaya energi berpotensi langsung mengurangi margin keuntungan perusahaan.

Strategi CMNT Menekan Biaya Operasional

Menghadapi tekanan tersebut, CMNT menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga efisiensi dan mengendalikan biaya operasional. Perseroan antara lain menerapkan strategi pengadaan yang lebih proaktif, melakukan pengelolaan bahan baku secara disiplin, serta meningkatkan efisiensi kegiatan operasional.

CMNT juga mengoptimalkan aspek logistik dan distribusi untuk menekan beban biaya. Salah satunya dilakukan dengan meningkatkan utilisasi armada internal melalui anak usaha perseroan yang bergerak di bidang pelayaran.

Baca Juga: BKPM dan IWIP Dorong Kemitraan Inklusif: Perkuat UMKM Maluku Utara

Optimalisasi armada internal tersebut memungkinkan perseroan mengurangi ketergantungan terhadap vendor eksternal. Langkah ini sekaligus memberikan ruang bagi CMNT untuk mengendalikan biaya logistik dan distribusi secara lebih efektif.

Di tengah kondisi biaya energi yang masih tinggi, efisiensi menjadi salah satu faktor penting bagi produsen semen untuk mempertahankan profitabilitas. Terlebih, kemampuan perusahaan untuk menaikkan harga jual memiliki keterbatasan karena harus mempertimbangkan kondisi permintaan dan persaingan pasar.

Tekanan Biaya Semen Berpotensi Berlanjut

Sementara itu, Lilik memperkirakan tekanan terhadap biaya operasional industri semen masih dapat berlanjut hingga akhir 2026. Prospek biaya produksi akan sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga batubara, solar industri, serta nilai tukar dolar AS.

Menurut Lilik, selama harga batubara dan solar industri masih berada pada level tinggi serta dolar AS tetap menguat, produsen semen masih akan menghadapi tantangan dalam menjaga margin.

Kondisi tersebut membuat strategi efisiensi, optimalisasi logistik, serta pengelolaan sumber energi menjadi semakin penting bagi pelaku industri semen. Kemampuan perusahaan dalam mengendalikan biaya akan menjadi salah satu penentu kinerja keuangan hingga akhir 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News