KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Lonjakan harga bahan bakar fosil akibat konflik Iran mulai menekan industri tekstil di Asia, khususnya di India dan Bangladesh. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya produksi hingga ke tingkat ritel global, termasuk bagi merek fast fashion seperti Zara dan H&M. Kenaikan harga energi telah mendorong lonjakan biaya bahan baku berbasis minyak, seperti purified terephthalic acid (PTA) dan monoethylene glycol (MEG), yang menjadi komponen utama produksi poliester. Perusahaan produsen benang poliester asal India, Filatex, melaporkan kenaikan biaya bahan baku hingga hampir 30%, dipicu oleh gangguan pasokan dari Timur Tengah serta kenaikan harga dari pemasok China.
Dampak ini merambat ke seluruh rantai pasok industri tekstil global yang didominasi Asia. CEO Bindal Silk Mills, Avichal Arya, menyebut krisis energi telah meningkatkan secara drastis biaya bahan kimia dan pewarna tekstil. Perusahaan tersebut merupakan pemasok kain poliester untuk sejumlah ritel besar dunia, termasuk Inditex, Target, Walmart, dan IKEA.
Baca Juga: Ekspor Thailand Melonjak 18,7% pada Maret 2026, Ditopang Permintaan Produk Teknologi Selain kenaikan biaya, industri juga menghadapi kekurangan tenaga kerja. Kelangkaan gas memasak akibat konflik mendorong banyak pekerja migran meninggalkan Surat, pusat industri tekstil di negara bagian Gujarat, India. Hal ini menghambat kemampuan produsen untuk memenuhi permintaan ekspor global.
Tekanan pada Poliester dan Rantai Pasok Global
Poliester, yang menyumbang sekitar 59% dari produksi serat global, sangat bergantung pada turunan minyak. Penutupan Selat Hormuz—jalur utama distribusi energi dunia—semakin memperparah tekanan terhadap pasokan bahan baku. Di Surat, dampaknya sudah terasa nyata. Sekitar separuh dari 200 mesin tenun milik Radheshyam Textile berhenti beroperasi sejak konflik dimulai. Produksi harian turun drastis dari 10.000 meter menjadi hanya 3.500–4.000 meter per hari. Pemilik usaha, Kaushik Dudhat, bahkan menghentikan pembelian benang poliester baru karena lonjakan harga yang signifikan. Ia memperkirakan harus menaikkan harga produknya hingga 15%, namun khawatir pasar tidak mampu menyerap kenaikan tersebut. Kenaikan biaya juga memaksa pabrik pewarnaan dan pencetakan tekstil di Surat mengurangi hari operasional menjadi hanya lima hari per minggu. Jika kondisi berlanjut, pelaku industri memperingatkan potensi penutupan pabrik akibat kelangkaan bahan baku.
Baca Juga: Gencatan Senjata Israel–Lebanon Diperpanjang, Ketegangan AS-Iran Belum Reda Harga Poliester Melonjak
Data dari Wood Mackenzie menunjukkan harga serat poliester di India melonjak dari 100 rupee per kilogram pada akhir Februari menjadi 126,5 rupee dalam waktu satu bulan. Meski sempat turun setelah pemerintah India memangkas tarif impor bahan petrokimia, harga tetap tinggi di kisaran 120 rupee per kilogram hingga awal April. Kenaikan harga juga terjadi di China, produsen poliester terbesar dunia, memperkuat tekanan global terhadap industri tekstil.
Dampak ke Bangladesh dan Potensi Penurunan Permintaan
Di Bangladesh, industri garmen yang mayoritas berbasis kapas tetap terdampak melalui kenaikan harga benang jahit berbahan poliester serta biaya logistik akibat lonjakan harga bahan bakar. Produsen benang Coats Bangladesh mengumumkan kenaikan harga sebesar 15,5% mulai pertengahan April, seiring meningkatnya biaya bahan baku berbasis minyak dan transportasi. Ketua Asosiasi Produsen dan Eksportir Pakaian Rajut Bangladesh, Mohammad Hatem, menyebut pembeli global kini lebih berhati-hati dalam menempatkan pesanan. Kondisi ini berpotensi menekan volume produksi.
Baca Juga: Bursa Asia Bergerak Variatif Jumat (24/4), Minyak Naik di Tengah Kebuntuan AS-Iran Analis Wood Mackenzie, Bruna Angel, memperingatkan bahwa jika situasi berlanjut, industri dapat mengalami “destruction of demand” atau penurunan permintaan akibat kenaikan harga ritel yang membuat konsumen mengurangi pembelian.
Dampak Meluas ke Industri Alas Kaki
Tekanan biaya juga mulai dirasakan di sektor lain, termasuk industri alas kaki. Material berbasis petrokimia seperti ethylene-vinyl acetate (EVA), yang banyak digunakan dalam sepatu olahraga, mengalami kenaikan harga. Asosiasi Footwear Distributors and Retailers of America mencatat setidaknya 25 komponen sepatu bergantung pada bahan petrokimia, mulai dari sol karet sintetis hingga perekat. Perusahaan seperti Nike juga mengakui bahwa kenaikan harga bahan berbasis minyak berdampak langsung terhadap biaya produksi.