KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga gandum dunia kembali meningkat di tengah gangguan ekspor dari kawasan Laut Hitam. Kondisi ini mulai menjadi perhatian pelaku usaha makanan berbasis tepung. Berdasarkan data World Bank, harga gandum U.S. Hard Red Winter (HRW) naik sekitar 27,4%, dari rata-rata US$243,3 per ton pada 2025 menjadi sekitar US$310 per ton pada Juli 2026. Pemerhati Industri Donat Djenedie mengatakan, kenaikan harga gandum dunia perlu diperhatikan pelaku usaha. Namun, dampaknya terhadap biaya produksi donat tetap perlu dihitung berdasarkan struktur HPP. Baca Juga: SEFAS Ungkap Alasan Akuisisi SPBU Shell, Lirik Potensi Jangka Panjang Bisnis Ritel “Yang lebih penting adalah menghitung seberapa besar pengaruh tepung terhadap HPP per donat dan apakah kenaikan tersebut benar-benar material terhadap margin,” kata Djenedie kepada KONTAN, Jumat (21/8). Menurut dia, kenaikan harga gandum dunia tidak otomatis membuat harga tepung domestik naik dengan persentase yang sama. Harga tepung juga dipengaruhi kurs, kontrak pembelian, stok distributor, biaya pengiriman, dan strategi produsen tepung. Djenedie pun memberikan simulasi, jika satu kilogram tepung menghasilkan 40 donat, kenaikan harga tepung dari Rp11.000 menjadi Rp13.000 per kilogram hanya menambah biaya sekitar Rp50 per donat. Dengan asumsi HPP awal Rp5.975 per donat, kenaikan tersebut membuat HPP menjadi sekitar Rp6.025 per donat. Artinya, HPP hanya meningkat sekitar 0,8%. Karena itu, Djenedie menyarankan pengusaha tidak terburu-buru mengganti tepung yang digunakan. “Jangan mengganti tepung secara drastis. Lebih baik diversifikasi supplier dan melakukan negosiasi kontrak harga,” ujarnya. Selain tepung, pengusaha donat juga perlu memantau harga minyak, telur, gula, serta filling dan topping. Komponen tersebut turut menentukan total HPP dan margin usaha. Dengan demikian, kenaikan harga gandum tidak serta-merta harus diteruskan ke harga jual donat. Penyesuaian harga dapat dilakukan apabila kenaikan biaya sudah mulai menekan margin secara material. Baca Juga: Operasional Penerbangan ke NTT Tetap Berjalan Normal Pascagempa Flores
Harga Gandum Naik, Pengusaha Donat Waspadai HPP
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga gandum dunia kembali meningkat di tengah gangguan ekspor dari kawasan Laut Hitam. Kondisi ini mulai menjadi perhatian pelaku usaha makanan berbasis tepung. Berdasarkan data World Bank, harga gandum U.S. Hard Red Winter (HRW) naik sekitar 27,4%, dari rata-rata US$243,3 per ton pada 2025 menjadi sekitar US$310 per ton pada Juli 2026. Pemerhati Industri Donat Djenedie mengatakan, kenaikan harga gandum dunia perlu diperhatikan pelaku usaha. Namun, dampaknya terhadap biaya produksi donat tetap perlu dihitung berdasarkan struktur HPP. Baca Juga: SEFAS Ungkap Alasan Akuisisi SPBU Shell, Lirik Potensi Jangka Panjang Bisnis Ritel “Yang lebih penting adalah menghitung seberapa besar pengaruh tepung terhadap HPP per donat dan apakah kenaikan tersebut benar-benar material terhadap margin,” kata Djenedie kepada KONTAN, Jumat (21/8). Menurut dia, kenaikan harga gandum dunia tidak otomatis membuat harga tepung domestik naik dengan persentase yang sama. Harga tepung juga dipengaruhi kurs, kontrak pembelian, stok distributor, biaya pengiriman, dan strategi produsen tepung. Djenedie pun memberikan simulasi, jika satu kilogram tepung menghasilkan 40 donat, kenaikan harga tepung dari Rp11.000 menjadi Rp13.000 per kilogram hanya menambah biaya sekitar Rp50 per donat. Dengan asumsi HPP awal Rp5.975 per donat, kenaikan tersebut membuat HPP menjadi sekitar Rp6.025 per donat. Artinya, HPP hanya meningkat sekitar 0,8%. Karena itu, Djenedie menyarankan pengusaha tidak terburu-buru mengganti tepung yang digunakan. “Jangan mengganti tepung secara drastis. Lebih baik diversifikasi supplier dan melakukan negosiasi kontrak harga,” ujarnya. Selain tepung, pengusaha donat juga perlu memantau harga minyak, telur, gula, serta filling dan topping. Komponen tersebut turut menentukan total HPP dan margin usaha. Dengan demikian, kenaikan harga gandum tidak serta-merta harus diteruskan ke harga jual donat. Penyesuaian harga dapat dilakukan apabila kenaikan biaya sudah mulai menekan margin secara material. Baca Juga: Operasional Penerbangan ke NTT Tetap Berjalan Normal Pascagempa Flores