KONTAN.CO.ID - CHICAGO. Harga gandum berjangka di Chicago Board of Trade (CBOT) kembali melemah pada Jumat (4/9/2026), melanjutkan koreksi setelah sempat mencapai level tertinggi dalam 3,5 tahun. Pasar mencermati perkembangan negosiasi damai Rusia-Ukraina yang dinilai berpotensi mengurangi gangguan pasokan gandum dari kawasan Laut Hitam. Kontrak gandum paling aktif di CBOT turun 12,5 sen menjadi US$ 7,42 per bushel pada pukul 10.10 waktu Chicago.
Harga gandum sebelumnya melonjak hingga US$ 7,95 per bushel pada Rabu, sebelum terkoreksi setelah Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan kesepakatan damai untuk mengakhiri perang di Ukraina masih memungkinkan.
Baca Juga: Ekspor Gandum Ukraina Anjlok 60% akibat Pelabuhan Laut Hitam Terblokir "Setiap pembicaraan mengenai perdamaian akan menekan pasar. Gandum tersedia di kawasan Laut Hitam, tetapi masalahnya adalah gandum tersebut belum bisa keluar," kata Ed Duggan, broker Top Third Ag Marketing. Pasar juga merespons laporan rencana kunjungan utusan Amerika Serikat Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Rusia dan Ukraina untuk membahas perdamaian. Kremlin pada Jumat menyatakan peluang penyelesaian konflik masih terbuka, meski belum mengonfirmasi rencana kunjungan tersebut. Perang Rusia-Ukraina telah mengganggu aktivitas pelabuhan dan pelayaran kedua negara di Laut Hitam. Kondisi ini membuat ekspor gandum dari kawasan tersebut nyaris terhenti dan mendorong importir gandum di Asia mengalihkan pembelian.
Pelaku perdagangan menyebut importir Asia telah membeli sedikitnya 500.000 ton gandum asal Australia dan Argentina dalam sejumlah transaksi terbaru.
Baca Juga: Harga Gandum Naik 4 Hari Beruntun Senin (17/8), Risiko Laut Hitam Jadi Sorotan Sementara itu, harga jagung dan kedelai bergerak fluktuatif menjelang libur panjang dan rilis laporan terbaru Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) pekan depan. Kontrak kedelai CBOT turun 1,25 sen menjadi US$ 13,15 per bushel, sedangkan jagung turun 1 sen menjadi US$ 5,40 per bushel. Harga kedelai masih mendapat dukungan dari pembelian China serta kekhawatiran cuaca panas dan kering di sejumlah wilayah produksi utama Amerika Serikat. USDA pada Kamis (3/9) juga melaporkan eksportir AS menjual 192.000 ton kedelai kepada China untuk pengiriman pada tahun pemasaran 2026/2027.