Harga Garam Kasar Naik Hampir 100% hingga Akhir 2025



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga garam kasar (garam krosok) yang kerap digunakan untuk bahan tahu tempe disebut mengalami lonjakan sejak akhir 2025.

Ketua Umum Asosiasi Petani Garam Rakyat Indonesia (APGRI), Jakfar Sodikin mengatakan, harga mulai naik hingga Rp 2.500/kilogram (kg) pada November 2025 lalu. Kenaikan ini secara bertahap terjadi sejak Agustus 2025 yang berada di kisaran Rp 1.700/kg.

“Harga naik hampir 100% dibandingkan dengan harga garam tahun 2024,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (13/1/2026).


Lonjakan harga ini, menurut Jakfar, merata di seluruh wilayah Indonesia. Sebab, ia mencermati sentra garam di Madura dan pesisir Jawa bagian Utara seperti Rembang, Pati, Cirebon, dan Indramayu kerap diguyur hujan sejak tahun lalu.

Baca Juga: Masuk Bisnis Promotor, IRSX Perkenalkan FolagoPro dengan Konser Brian McKnight

Akibatnya, produksi garam pun mengalami penurunan yang cukup drastis. “Produksi turun jauh, sampai hanya sekitar 20% dari produksi tahun 2024,” imbuh Jakfar.

Dihubungi secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) Cucu Sutara juga menyoroti kendala yang sama. Menurut dia, cuaca kemarau basah yang ekstrem pada 2025 menyebabkan nihilnya produksi.

“Sehingga, hal ini mengakibatkan supply dan demand yang tidak seimbang,” terangnya saat dihubungi Kontan, Selasa (13/1/2026).

Cucu menilai, kenaikan harga tersebut berdampak positif bagi petani yang masih memiliki produksi lantaran mereka dapat menjual hasilnya dengan harga yang lebih tinggi.

Kendati demikian, menurut Cucu, peningkatan harga belum diimbangi dengan peningkatan kualitas produksi. Menurutnya, hingga saat ini garam lokal belum sepenuhnya memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan industri dengan standar tinggi. 

Sehingga, ia menilai, pemanfaatannya masih terbatas pada industri aneka pangan seperti pengolahan ikan, kulit, dan pengalengan. “Khusus untuk sektor industri tersebut, belum bisa dipenuhi oleh kawan-kawan dari lokal,” imbuh Cucu.

Jakfar melanjutkan, selain faktor cuaca, pergerakan harga garam lokal juga dipengaruhi oleh masuknya garam impor yang dinilai tidak sejalan dengan kebutuhan dan kondisi produksi dalam negeri.

“Yang berpengaruh terhadap harga garam adalah garam impor yang tidak terkendali atau terlalu tinggi dibandingkan kebutuhan,” kata Jakfar.

Sedangkan dari sisi distribusi, Jakfar menilai kondisi penyaluran garam saat ini masih relatif aman.

Ia menjelaskan, kondisi stok garam yang melimpah di pasar pada periode tertentu bukan semata-mata disebabkan oleh tingginya produksi dalam negeri.

“Produksi bisa saja rendah, tetapi impor yang masuk banyak sehingga terjadi kelebihan pasokan di pasar,” jelasnya.

Meski demikian, Jakfar bilang pasokan garam rakyat untuk kebutuhan dalam negeri saat ini masih mencukupi.

Pasalnya, pasokan masih disokong oleh stok garam di tingkat petambak, pedagang, maupun pengepul, yang berasal dari produksi tahun 2023 dan 2024.

Ke depan, kata Jakfar, APGRI berharap ada penetapan harga pembelian terendah kepada petambak garam, agar petambak lebih termotivasi untuk membuat garam. “Selain itu, perlu juga dibentuk badan penyangga garam seperti Bulog,” pungkasnya. 

Baca Juga: BP3R Siap Dibentuk Sebelum Lebaran 2026: Percepatan Properti Dimulai

Selanjutnya: Kemenkeu Tegaskan Defisit APBN 2026 Tetap Dijaga di Bawah 3% PDB Sesuai Amanat UU

Menarik Dibaca: 4 Makanan yang Bikin Kenyang Lebih Lama selain Telur, Cocok untuk Diet!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News