Harga Gas Alam Melonjak ke Level Tertinggi Dalam Empat Bulan



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga gas alam meningkat ke level tertinggi empat bulan di atas US$ 2,5 mmbtu. Harga gas alam melonjak signifikan usai merespons pasokan yang lebih rendah di saat permintaan masih tinggi.

Mengutip Tradingeconomics, Jumat (17/5), harga gas alam berjangka Amerika Serikat (AS) ditutup pada posisi US$ 2,64 mmbtu. Harga terpantau sudah naik sekitar 5,73% dalam sehari dan meningkat sekitar 32,83% dalam periode sepekan.

Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo melihat, kenaikan harga gas alam terjadi setelah Energy Information Administration (EIA) melaporkan kapasitas penyimpanan yang lebih kecil dari perkiraan. Perusahaan utilitas AS menambahkan 70 miliar kaki kubik (bcf) gas ke dalam penyimpanannya pekan lalu, di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan peningkatan sebesar 76 bcf.


Namun, laporan tersebut juga menunjukkan stok gas AS berada 30,8% di atas rata-rata 5 tahun. Di sisi lain, produksi gas AS sejauh ini turun sekitar 10% pada tahun 2024 setelah beberapa perusahaan energi, termasuk EQT dan Chesapeake Energy, menunda penyelesaian sumur dan mengurangi aktivitas pengeboran lainnya.

Baca Juga: Konflik Mereda, Harga Komoditas Energi Terkoreksi

Konsumsi gas juga meningkat oleh pembangkit listrik untuk memenuhi kebutuhan listrik AC seiring perkiraan cuaca yang menunjukkan adanya pergeseran suhu lebih hangat dari biasanya di akhir bulan. Selain itu, aliran gas ke pabrik ekspor LNG utama Amerika meningkat pada bulan Mei dibandingkan bulan April, seiring dengan kembalinya layanan penuh Freeport.

“Gas alam berjangka AS naik ke level tertinggi dalam empat bulan,” ujar Sutopo kepada Kontan.co.id, Jumat (17/5).

Menurut Sutopo, harga gas alam diperkirakan akan diperdagangkan pada US$2,45 mmbtu pada akhir semester I-2024. Di akhir tahun 2024, harga gas alam diperkirakan berada di posisi US$2,64 mmbtu.

Sementara itu, Founder Traderindo.com Wahyu Tribowo Laksono melihat wajar lonjakan harga gas alam baru-baru ini. Sebab, pergerakan mendadak bahkan liar bisa terjadi kapan pun bagi komoditas energi tersebut.

Liquid Natural Gas (LNG) atau gas alam cair dinilai kadang memang bisa bergerak sangat dramatis. Harganya bisa naik atau turun sangat signifikan pada suatu waktu, sebelum akhirnya kembali normal dan konsolidasi.

“Kenaikan drastis harga gas alam bisa mungkin terjadi mendadak dalam suatu waktu nantinya, seperti kebiasaannya,” jelas Wahyu kepada Kontan.co.id, Sabtu (18/5).

Baca Juga: Harga Komoditas Energi Kompak Turun, Simak Proyeksi Selanjutnya

Adapun selama tiga minggu terakhir, harga gas alam AS telah melonjak 30% menjadi di atas US$2,50 per juta unit termal Inggris (mm/BTU). Menurut Wahyu, kenaikan harga ini didorong oleh penurunan produksi dan meningkatnya permintaan gas pakan untuk ekspor gas alam cair.

Selain itu, pemotongan suplai oleh produsen baru-baru ini, kegiatan pemeliharaan, dan normalisasi permintaan gas Freeport LNG pasca-outage telah berkontribusi pada peningkatan harga gas alam. Pengumuman Cheniere tentang tidak ada pemeliharaan yang berat untuk kereta liquefaction tahun ini juga mendukung harga menguat.

Wahyu menyoroti, pemicu jangka pendek harga gas alam saat ini mungkin berasal dari pembeli gas alam cair terbesar di China yang memesan untuk lebih memperluas armada tanker LNG mereka.

China National Offshore Oil Corporation telah memesan 12 kapal senilai 16 miliar (US$2,2 miliar) untuk tanker Liquified Natural Gas (LNG). Ini menambah berita bahwa beberapa pusat perdagangan seperti London telah mengkonfirmasi bahwa lebih banyak peserta China yang membeli kontrak di pasar lokal LNG Eropa dan AS.

Ditambah lagi, kondisi indeks dolar AS melemah setelah Consumer Price Index (CPI) AS menunjukkan ekonomi kembali ke jalur disinflasi. Data Producer Price Index (PPI) dan juga beberapa data ekonomi AS lainnya turut mengecewakan.

Baca Juga: Wall Street Catat Optimistis, Indeks Naik 3 Hari Beruntun

Walau demikian, Wahyu menilai bahwa bagaimana pun harga LNG masih dalam tren bearish. Harga berbalik menguat alias rebound dianggap wajar karena harga gas alam telah anjlok sebelumnya.

Wahyu memproyeksi harga gas alam kemungkinan akan berada dalam rentang US$1.580 -US$2.700 per mmbtu di akhir semester pertama 2024 ini. Sedangkan, harga gas alam diprediksi bisa naik ke level US$ 4,00–US$ 6,00 mmbtu

Produsen dalam negeri AS terus optimistis tentang prospek jangka panjang gas sebagai bahan bakar, baik di Amerika maupun di luar negeri. Meski produsen dan operator pipa gas alam AS mengakui ada kelebihan pasokan yang menggantung di pasar, tetapi mereka percaya bahwa gas akan terus diminati di dalam dan internasional selama beberapa dekade mendatang.

Oleh karena itu, Wahyu bilang, perusahaan-perusahaan AS melihat kemerosotan pasar saat ini sebagai bagian tak terelakkan pada siklus industri. Ke depan, rencana utilitas AS yaitu membangun 133 pembangkit listrik tenaga gas baru & pembangkit listrik tenaga gas alam antara 2024-2035.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati