Harga gas alam menorehkan performa ciamik di kuartal I



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejak awal tahun atau sepanjang kuartal-I 2019 harga gas alam menorehkan performa ciamik. Berdasarkan data Bloomberg, harga gas alam kontrak pengiriman Mei 2019 melemah 0,37% sepanjang kuartal-I ke level US$ 2.662 per mmbtu, pada Jumat (29/3).

Analis Asia Trade Point Futures Cahyo Dewanto menilai, harga gas alam pada periode tersebut masih berada dalam area aman. Pada kuartal-I harga gas alam pernah berada dalam harga tertinggi yakni US$ 2.884 per mbbtu pada 5 Maret, dan level terendah US$ 2.590 per mbbtu pada 3 Januari.

Secara umum, gas alam dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama, kondisi iklim yg masih memasuki musim dingin sejak 21 Desember 2018 sampai dengan 21 Maret 2019 yang membuat permintaan gas alam menguat.


Menurut Data Energy Information Administration (EIA) terjadi penurunan pasokan gas sebesar 36 miliar kubik. Sehingga persediaan gas alam AS per tanggal 22 Maret turun 33,2% di bawah rata-rata bila dilihat dalam lima tahun ke belakang.

Tren positif gas alam terjadi di tengah naiknya harga minyak yang terus menerus. “Ini membuat pasar mulai melirik gas alam sebagai energi substitusi industri,” kata Cahyo kepada Kontan, Senin (1/4).

Hal ini pernah disindir oleh Presiden AS, Donald Trump dalam pidatonya yang mengatakan lebih baik menggunakan gas alam dari pada menggunakan energi minyak yang menjadi mahal.

Cahyo menilai untuk kuartal-II sentimen masih sama. Harga gas alam akan dipengaruhi oleh musim, cadangan, harga minyak, serta perundingan dagang AS-China.Jika harga minyak masih terus menguat, gas alam diperkirakan akan naik permintaannya sebagai substitusi tenaga pembangkit.

Selain itu, kebutuhan gas alam akan menggantikan energi dari batubara seiring program pengurangan emisi CO2. China sebagai konsumen gas alam terbesar sangat dipengaruhi perkembangan perang dagang. Saat ini, perkembangan dagang dengan AS beranjak positif.

Sehingga katanya ini akan merangsang produsen di China yg pada akhirnya menaikkan permintaan gas alam. Ia mengatakan, jika perang dagang sesuai yg diharapkan, maka tarif 10% untuk Liquefied Natural Gas (LNG) AS akan membantu dorongan ekspor gas alam ke China,yg akan menaikkan permintaan.

Nah, harga minyak dan sentimen perang dagang yang positif dinilai mampu menjadi katalis gas alam. Tetapi musim semi telah berhembus pada kuartal-II membuat permintaan gas alam masih bisa terkoreksi.

Adapun Cahyo memprediksi harga gas alam pada kuartal-II akan bergulir melanjutkan penguatan di rentang harga US$ 2.500-US$ 3.100 per mmbtu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli